
AKBAR adalah Ikatan Abang None Jakarta Barat. Inilah cerita perjalanan kami, beberapa AKBAR (dan cecunguk-cecunguknya), yang baru saja selesai melakukan aksi sosial untuk korban gempa bumi di Kec. Purbaratu, Tasikmalaya.
Sebelumnya, perkenalkan yang mengisi keriaan perjalanan ini adalah
- Mobil 1 (Mobilnya Bang Doddy) : Doddy, Marsel, Milly, Gena, Arman
- Mobil 2 (Mobilnya Bang Nana) : Nana, Ficky, Zaki, Hada, Baby, Firman, Padil, Tio
FYI, Padil dan Tio adalah cecunguk-cecunguk yang dimaksud, hehe
Mulailah perjalanan ini..
Senin 14 September 2009
Pukul 23.30 WIB Saya menunggu di rumah, untuk dijemput oleh Ficky. Udah pake boong segala, katanya udah deket ternyata belom mengarah ke rumah. Dasar lo Fick. Ficky memang sengaja menjemput Zaki dulu di rumahnya daerah Tanjung Duren. Lumayan juga, dari Rawabelong-Tanjung Duren-Joglo-Rawabelong. Hehe.
Selasa 15 September 2009
Pukul 00.30 WIB Kami bertiga, saya, Ficky, dan Zaki yang memang sudah berencana untuk bermalam, atau ber-”pagi”, di rumah Ficky akhirnya sampai. Sebelumnya rencana perjalanan ini adalah kami akan kumpul jam 3 pagi di KFC Kemang, lalu berangkat ba’da (setelah) Subuh. Dengan baiknya, Ficky menelpon 14045 (Layanan Delivery dari salah satu restoran cepat-saji, huruf awal M, huruf terakhir D, tengahnya c), awalnya saya pikir dia mau memesan untuk orang rumahnya, tapi ternyata, untuk kami. Nana sebelumnya juga berencana akan menginap juga di rumah Ficky. Sambil menunggu Nana datang, kami menonton DVD, film Ju-on 3, yang saya bingung, ini sebenarnya film horror apa film komedi? Forget it.
Pukul 02.15 WIB Nana datang dengan mobilnya. Ficky keluar untuk membukakan pintu, tapi ternyata Ficky kembali dengan pernyataan sedikit geram, “Da, liat deh kelakuan Nana, masa kita disuruh berangkat sekarang?”, hmm, ya, setelah saya konfirmasi ke Nana, ternyata memang kami harus berangkat saat itu juga, karena mobil 1, sudah berangkat menuju tol dan mengabarkan untuk ketemuan di KFC rest area km 57. Baiklah, dengan membatalkan niat untuk tidur sampai waktunya sahur, kami bersiap-siap dan langsung menuju Fatmawati untuk menjemput Firman dan Padil. Sampai di sana ternyata si Paung ini belum sampai kontrakannya, ia masih dalam perjalanan baru selesai main basket. Nah, jadilah kami harus menunggu mereka siap-siap dulu. Dasar ngerepotin aja.
Ohya, Firman juga meminta izin untuk membawa satu lagi peliharaannya, si Tio, Hertio Sikumbang nama lengkapnya kalo kata Firman di Facebook. Selesai berurusan dengan 3 manusia serupa Bang Firman semua, kami tancap ke Kalibata untuk menjemput Non Baby. Dengan muka agak “bantal”, Baby keluar dari rumahnya. Pick-up time is done. Saatnya tancap ke tol menuju rest area.
Pukul 03.30 WIB Kami sampai di KFC rest area km 57. Semua orang di mobil 2 terlelap kecuali supirnya, Bang Ficky (hopefully dia gak ikutan tidur juga). Jadi, sampai-sampai di KFC semuanya ga ada yang sadar. Di sana, Bang Doddy and the gank of the mobil sudah nungguin, ya, jadinya kami langsung pesan makanan. Udah waktunya sahur juga,
. Jadilah kami bercengkrama dulu di sana. Sembari melakukan sedikit perbincangan untuk persiapan nanti melakukan aksi sosial. Selesai makan, ada yang sikat gigi, cuci-muka, ada juga yang gak ngapa-ngapain, soalnya niat gak puasa. Dasar!. Adzan berkumandang, saatnya harus mulai berpuasa. Again, hanya beberapa orang yang solat Subuh. Biarlah. Haha.

Artis bukan, ya?
Pukul 05.00 WIB Berangkatlah kami dengan niat yang bulat menuju Tasikmalaya untuk bertemu dengan Evie Tamala. Loh?! Bukan. Maksudnya untuk melakukan tujuan kami, yeah, AKSI SOSIAL!! (Agak berlebihan). Perjalanan ini agak-agak sunyi, ya, seperti di rumah saja, selesai sahur, semuanya langsung tidur lagi. Apalagi ini, udah sahur, udah solat, di mobil lagi. Apologize us the drivers, Bang Doddy and Bang Ficky.

Tiduur lagiii
Pukul 09.00 WIB Kami sampai di Tasikmalaya. Salah satu perwakilan dari Anak Garaz Tasikmalaya datang menjemput kami. Mengapa tiba-tiba ada Anak Garaz? FYI, Anak Garaz adalah perkumpulan penggemar dari Band Garasi. Tahukah kalian Band ini? Ya, band yang terbentuk dari awalnya sebuah film pada tahun 2006, judulnya Garasi. Band yang pada mula berdirinya digawangi oleh Fedi Nuril (Keyboard, Gitar), Aries Budiman (Drum), dan Ayu Utami (Vokal). Ntah bagaimana ceritanya, dan masalah apa yang mereka hadapi, Band Garasi kehilangan vokalisnya, dan untuk sekarang, None kami, Million Sekarsari, bertugas untuk menggantikan Ayu untuk bernyanyi. Nah, jadi alasan keberadaan Anak Garaz di perjalanan kami kali ini adalah karena Non Milly sekarang sudah merupakan bagian dari Band Garasi, officially or not. Jadi, Anak Garaz Tasikmalaya ini adalah penghubung kami dengan para korban gempa. Mereka yang juga membantu Non Milly untuk mengkoordinasikan kehadiran kami di lokasi gempa dengan LSM yang ada di sana. Setelah salah satu Anak Garaz datang menjemput kami, kami dibawa ke markas Garaz. Sebuah rumah yang memang diperuntukkan bagi mereka untuk kumpul-kumpul. Ya, sesampainya saya di sana memang terlihat gambar-gambar band Garasi di sana. Well, it’s their basecamp. Kami beristirahat, ngobrol, foto-foto, dan share dengan beberapa Anak Garaz yang ada. Ternyata, anak Garaz di Tasikmalaya sampai 90 orang.

Di sebuah pos dekat Markas Garaz

AKBAR dan Anak Garaz Tasikmalaya
Pukul 10.00 WIB AKBAR dan Anak Garaz Tasikmalaya berangkat beriring-iringan menuju lokasi. Lumayan jauh perjalanan ke sana. Tidak heran bahwa kabarnya lokasi ini belum dijamah oleh pemerintah. Karena ya, memang jauh ke dalam.
Pukul 11.20 WIB Kami sampai di sana. Sebuah tenda darurat besar di lapangan sebuah sekolah dasar sudah dipersiapkan untuk kehadiran kami. Ya, disitulah kami berkumpul untuk menghibur dan membantu mereka. Pada kesempatan kali itu, Non Milly dan Anak Garaz, Bang Doddy, Bang Firman, Non Baby, dan Padil bernyanyi untuk menghibur mereka. And yes, I saw their smile back on their face. Thanks, friends. Anak Garaz juga melakukan beberapa aksi sulap. Di akhir acara, perwakilan dari LSM yang ada di sana, GMBI, menerima secara simbolis bantuan dari kami, AKBAR dan sponsor yang memang sudah dipersiapkan dari Jakarta. Setelah selesai acara semi-seremonial itu, kami diajak untuk berkeliling melihat keadaan desa itu. Memang, banyak rumah yang sudah tidak mungkin lagi ditempati. Mereka terpaksa membangun tenda darurat di sebelah rumah mereka. Tetapi, keadaan itu belum membantu menyelesaikan masalah mereka. Jelas, berhari-hari di tenda pengungsian, penyakit pasti akan datang menyerang, terutama pada anak-anak. Dan tragisnya, bantuan tim medik baru datang sehari sebelum kehadiran kami di sana. Ya, it’s been 2 weeks without medical treatment for them who are suffering. Well, hanya segini yang bisa kami bantu. The rest, kami akan bantu mengkoordinasikannya dari Jakarta dan turut berdoa yang terbaik untuk mereka, para korban.

Di SDN Pasirjaya with Anak Garaz Tasikmalaya

Kondisi di Purbaratu

Rumah ini hancur karena Gempa

Kondisi di tenda saat menghibur korban
Pukul 12.30 WIB Kami berangkat dari desa langsung menuju rumah Gena di tengah kota Tasik. Tiga perempat perjalanan kami dipandu oleh Anak Garaz dan GMBI. Dengan jagoannya, mobil kami berhenti di tengah jalan, ya, Anak Garaz dan GMBI berpamitan untuk berpisah. And since that time till right now, I still have a very big question mark in my head, why it supposed to be in the middle of the street? Pengguna jalan yang terjebak dengan kelakuan kami sontak mengklakson, tapi apa peduli, kami masih ada di tengah jalan,
We’re sorry, Tasik.
Pukul 13.15 WIB Kami sampai di rumah Gena. What a trip! Beberapa abang-abang langsung selonjoran di karpet ruang tamu dan tertidur. Beberapa yang lainnya berebutan untuk mandi, karena kami belum mandi seharian. Saya, Ficky, Milly, Baby, Gena, dan Nana nongkrong di kamar Gena, ngobrol, sampai ketiduran. Maklum saja, seharian tanpa mandi dan penuh kegiatan, pasti sangat melelahkan.
Pukul 16.00 WIB Semuanya baru terbangun. Ya, kami sangat lelah. Dan Bang Doddy mengomandokan untuk segera berangkat. Kami berencana untuk buka puasa di Bandung. Jadi dengan perhitungan seperti ini, diharapkan dapat sampai tepat waktu di sana. Kami berangkat dengan team minus one, Gena. Gena tinggal di rumahnya.
Pukul 17.30 WIB Manusia boleh berencana, tetapi Allah jualah yang akhirnya menentukan. Karena dirasa waktunya tidak cukup untuk sampai di Bandung pada saat bedug bertabuh, kami memutuskan untuk berhenti sebentar membatalkan puasa dan solat Magrib. Baru setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bandung agar semuanya terasa lebih enak.

At some point of Nagrek for having the fasting break
Pukul 18.30 WIB Kami berangkat ke Bandung. Di tengah perjalanan yang agak bercabang-cabang, kami terpisah dengan mobil 1. Mereka yang memakai GPS memilih jalan yang berbeda dengan jalan yang ditunjukkan oleh Tio, sebagai barudak yang sudah lebih lama tinggal di dataran Sunda. Ya, akhirnya kami janjian untuk ketemuan di pinggir tol Pasteur.
Pukul 20.30 WIB Setelah melakukan beberapa perbincangan hendak makan di mana, akhirnya Padil memutuskan untuk makan di Cisangkuy saja. Ada Clique Cafe and Resto di sebelah Yoghurt Cisangkuy. Kami berhenti dan makan di sana. Dengan kurang ajarnya, Ficky, saya, dan Firman minum yoghurt dulu di sebelah. Yoghurt ini memang terkenal sangat enak. Tidak lama setelah kami meng-order, tempat ini tutup. Maaf teman-teman di sebelah, kalian tidak bisa memesan lagi untuk hari ini. Di Clique, saya memesan nasi goreng, dan dengan uniknya nasi goreng ini bolong di tengahnya. Ini bukan donat, kan? Kami mengobrol lagi, kali ini Bang Doddy yang banyak berbicara, mengenai politik di negeri ini, sampai kepada sedikit masukan untuk persiapan pemilihan Abnon Jakbar 2010 mendatang. Lalu, datang 3 orang lagi, yaitu adiknya Bang Doddy dan 2 orang temannya. Oh, ya. Ada kejadian sangat penting di sini. Si Bang Firman yang pemalu itu, tiba-tiba saja maju untuk bernyanyi. Whew. Benar-benar tidak bisa liat mic nganggur.

Saya, Baby, dan Marsel di Clique Cisangkuy

Nasi Goreng Clique Cafe
Pukul 22.00 WIB Perjalanan untuk kembali ke Jakarta dimulai. Ya, formasi mobil sudah diatur agar peng-antar-an makhluk-makhluk dapat dilakukan dengan mudah. Yang terjadi hanya satu hal pada perjalanan kali ini: TIDUR. Sampai-sampai si Ficky melakukan berbagai aksi untuk membangunkan kami. Tapi tetap, toh, tidak ada yang terbangun, hehe. Maap ya Fick.
Pukul 23.5o WIB Mobil 2 sampai di Jakarta. Entah bagaimana dengan mobil 1. Mungkin sudah sejam yang lalu. FYI, Bang Doddy adalah supir Batak yang sangat tidak takut dengan risiko di jalanan. Hehe. Sampai di Jakarta, diantarkanlah Firman dan 2 cunguknya ke Fatmawati.
Rabu 16 September 2009
Pukul 01.00 WIB Saya diantarkan ke rumah.
Well, that’s all our trip. Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan dari perjalanan kali ini. Dari mempererat kekeluargaan di antara kami, sampai memahami makna saling bantu sesama umat manusia. Bantuan yang kami antarkan mungkin jumlahnya belum seberapa, belum bisa menutupi luka fisik dan batin yang menimpa mereka, saudara-saudara kami yang tertimpa musibah. Namun, apa yang ada di hati kami untuk membantu pada korban, adalah tulus dan ikhlas.
Insya Allah, untuk saudara-saudara kami yang masih menderita karena bencana ini, selalu diberikan ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi ujian ini. Percayalah, akan ada keindahan yang sedang dipersiapkan Allah apabila kita melaluinya dengan ikhlas.
Be tough, there.
*Thanks to Anak Garaz Tasikmalaya (AGATA), Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), Ikatan Abang None Jakarta Barat (AKBAR), and all of the supporters.