InsyaAllah, kalau memang tiba waktunya, besok adalah tanggal 28. Dua puluh tahun yang lalu, di hari yang sama, saya lahir, saya mulai diberikan nikmat kehidupan dunia. Bagi saya, tidak ada yang begitu istimewa dengan hari ulang tahun. Hal ini yang mungkin membuat saya jarang sekali men-traktir teman-teman dalam rangka ulang tahun atau bahkan pesta ulang tahun tiup lilin dsb. Mungkin juga karena di keluarga saya, ulang tahun memang hal yang tidak istimewa, ya, seperti hari-hari biasa saja. Ucapan selamat, dan selesai. Tidak ada masalah dengan hal ini. Bagi saya pribadi, yang terpenting adalah hal-hal dibalik pencapaian usia sekian tahun tersebut. Bagaimana kita telah diberikan limpahan nikmat dan berkah untuk disyukuri, bagaimana kita telah diberikan begitu banyak cobaan untuk dilalui agar menjadi dewasa,bagaimana kita telah melakukan sesuatu dan bermanfaat untuk sekitar, dan apa-apa saja yang kita berhasil ‘miliki’ selama hidup.
Terlepas dari semua itu, pada posting-an kali ini, saya ingin membocorkan sedikit banyak teman hidup saya, yang sudah memberikan banyak warna selama 20 tahun kehidupan saya. Semua ini tidak lepas dari rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada mereka, karena tanpa mereka, saya tidak akan pernah merasa lebih baik lagi.
*Bahasa yang digunakan akan sangat beragam, mohon pengertiannya
(These names are randomly sorted)
Anggia Justitia, kita kenal sejak TK ya Nggy? Kau juga udah tau, dan biarlah orang-orang tau, kalau aku naksir sama kau dari TK sampe SD. Setau aku, kita saling kenal, tapi ya, cuma sebatas tau aja, nggak mengenal sebagai teman main. Sampai akhirnya aku pindah ke Duri dan Jakarta. Kita sudah terpisah jauh. Aku cuma bisa inget kalau aku pernah naksir kau, gak lebih. Pas tahun pelajaran baru di kelas 2 SMP, tiba-tiba ada yang nyamperin aku, bilang kalau ada temen dari Riau pindah ke SMP yang sama dengan aku. Waw! Dan ternyata itu Anggia. Yaah, sebenernya gak ada yang terlalu spesial, tapi buat kita, anak rantau, punya temen satu daerah yang asalnya sama itu kesenangan tersendiri. Jadi berasa kayak di rumah, feel safe. Sampai akhirnya kita ada di SMA yang sama. After all, Anggy adalah sosok teman yang hangat dan dinamis. Kisah hidupnya kurang lebih sama dengan saya, entah dia tau atau gak. Dia adalah teman yang jujur, waktu kangen bilang kangen, waktu marah ya dia marah dan kesal, dia bilang semua yang dia rasain. Sampai sekarang, saya masih berhubungan baik dengan dia, walaupun tidak se-intens dulu.
Lystia Amelia, dia teman pertama saya di muka bumi ini. Mungkin itu kata-kata pertama yang paling pas. Ya, ada satu cerita yang gak pernah aku lupa Thy.Gaek kau masuk rumah sakit duluan, ngelahirin duluan, kau tanggal 20 Desember, kan? Tapi gaek aku yang keluar duluan. Tante Imas harus dirawat lebih lama karena ada tulangnya yang retak pasca ngelahirin raksasa bernama Lystia. (hehe, becanda Thy). Kita tetanggaan selama di Iksora, Rumbai. Yaah, kehidupan keluarga satu sama lain udah sama-sama tau lah ya Thy. Aku masih inget, dulu pas SMA, aku pernah nulis tentang kau pas disuruh bikin tugas tentang Best Friend. Data-data foto kau masih ada di aku.
Haha. Yaa, pastinya posisi kau sebagai Teman Pertama di Bumi gak akan pernah tergantikan
Hendry Magribi, dia teman ku selama dua tahun SD di Duri, Riau. Badannya dulu pas SD gak jauh beda sama aku. Gak tau sekarang. Udah langsing kau Hen? Haha. Entah gimana, tapi kau adalah sahabat yang gak pernah aku lupa sampe sekarang. Walaupun sekarang kita jarang berhubungan, tapi pasti keinget terus. Apa karena ulang tahun kau yang beda seminggu sama aku? Haha, gak tau jugalah ya. Well, hal yang saya gak bisa lupa dari Hendry adalah semangat dan tawa-nya. Dia ternyata juga punya minat yang serupa dengan saya di dunia minyak, terbukti dari sekarang dia ambil Petroleum Engineering di kuliahnya. Dia yang berhasil menyadarkan saya bahwa kita harus semangat dan masa depan itu ada untuk diraih. Semoga kita ketemu di dunia kerja ya Magribi!
Brigitta Della Dyahanggraini, Della! Apa kabar kau sekarang? Dia adalah salah satu sahabat saya di Duri selain Hendry. Perawakannya yang sangar… Ga deng. Berambut agak-agak keriting menjurus kribo, berkelakuan seperti laki-laki, agak cuek walaupun berhati lembut, hal ini yang bikin aku berasa nyaman main sama kau. Haha. Rumahnya cuma berjarak 2 blok dari rumahku, ditambah lagi teras rumahnya yang ber-AC. Gak heran kalo aku suka main ke sana, hehe. Aku masih inget, Della adalah salah satu teman yang membuat aku berat meninggalkan Duri saat itu. Dia ngasih fotonya, dari yang masih jaman kecil imut-imut, sampai fotonya yang terkini masa itu, sebagai kenang-kenangan. Aku masih nemu pas bongkar-bongkar di Jakarta, Del. Masih aku bawa ke mana-mana. Oh iya, frame foto bunga-bunga berglitter itu juga masih ada sampai sekarang. Hehe.
Karamina Raihan, Mina adalah sahabatku, yang ternyata juga sodaraku. Walaupun kau bawel Min, tapi teteplah, gak ada yang bisa ngalahin kau kalau kita lagi telfon-telfonan. Dulu, waktu di Riau, kita bisa telfon-telfonan berjam-jam tanpa bisa diganggu gugat ya Min. Rasanya enak aja kalo cerita sama dia. Sampe sekarang juga kalo tiba-tiba kau telfon, pasti adaa aja yang diobrolin. You are such a very good listener, and a very right person to share many things. Kapan kita ketemu, jalan-jalan, ngobrol lagi, Min? Apa kabar ayah, bunda, Rafi, Fadel?
Astri Rosmikawati, nama yang satu ini gak bakal pernah lupa dari daftar orang-orang yang berhasil mengisi hidup gue. Pertama kali kenal, kirain anak gaul, ternyata, gaulnya paraaaaaaah. Haha, iya gak Coro? Cerita sama dia enak banget, kegaulannya bisa menyeimbangkan kehidupan gue yang ternyata gaul juga (yang ini boongan). Sepertinya jalan hidup yang memisahkan kita. Mulai dari lo SMA di 21, kuliah di jurusan sosial, yaaa semakin jauh aja kita. Hehe. Sampai sekarang masih suka ketemuan, walaupun gak sering. Terakhir ketemu di kafe gaul daerah Senopati, makin gaul aja Chy. Haha.
Niknik Bestar, si Panda Culun a.k.a. Pacul ini benar-benar luar biasa. Bukan hanya berumur lebih tua dari saya, tapi pemikirannya berhasil menyaingi pemikiran saya. Kalo cerita sama dia, pasti advice-nya gak pernah biasa. Adaaa aja. Sedikit banyak gue jadi ngerti seluk beluk kehidupan keluarga lo, juga kehidupan lo. Tapi sayang, tembok Cina memisahkan kita. Haha, ga deng. Niknik adalah sosok wanita yang ‘besar’. Besar hati, besar pemikiran, dan besar badannya
Mulki Abi Fadlan, kita udah kenal sejak SD, ya Bi? Gak nyangka sekarang satu kampus lagi, satu fakultas, sekarang satu jurusan, satu kostan, untung aja gak satu kamar atau satu pacar ya? Hehe. Dulu waktu di Duri, aku suka main ke wisma tempat tinggalnya. Entah karena wismanya yang deket sama Commissarry, jadi mampir dulu, atau emang karena aku pengen main-main sama kau. Hehe, bcanda Bi. Sekarang juga Abi jadi partner hidup di kostan yang baik, setia, dan patuh (kayak peliharaan lebih kontrasnya). Satu hal besar yang saya dapat dari Abi, adalah kesabaran baginya adalah hampir tidak berbatas. Dia bener akan satu hal, bahwa kalo sabar, pasti adaa aja jalannya. Tapi, kalau terlalu sabar dan baik mungkin juga gak baik ya Bi buat kesehatan, hehe. Semoga kelak aku bisa sesabar kau Bi. Yang sabar yaa.
Bunga Yuridespita, kita banyak kisah ya Bung. Banyak cerita yang saling di-share. Dua Java Jazz, dan insyaAllah tiga, dengan JJF2010 akan kita lalui bersama. Hahaha. Yaa, walaupun di kehidupan nyata susah ditemui, setidaknya sekali setahun kita pasti ketemu di Java Jazz. Bunga teman yang luar biasa buat cerita. Pemikiran dan jalan hidupnya mirip sama gue. Jadi kalo cerita lebih enak, dia ngerti apa yang gue rasain, ya gak Bung? Gak perlulah ya gue tulis panjang-panjang tentang lo. Lo juga udah tau kan Buuung?
Leta Lestari, hal yang paling berkesan adalah gue berkali-kali dibonceng Leta naik motor. Haha. Gak tau apakah hal itu pantas dipublish di sini, tapi gue mau orang-orang tau, kalo Leta adalah wanita yang tegar dan tangguh. Gue tau gimana perasaan lo pas gak keterima PMDK IPB. Tapi liat kenyataannya sekarang, lo di UI, Let! Itu kan mimpi lo? Well, Leta teman yang asik, dewasa, baik. Suka cerita-cerita.
Fanit Akmal B. Hakiman, teman SMA gue yang satu ini unik. Kalau debat sama dia, pasti gak akan ada habisnya. Bisa sampai emosi beneran. Perawakannya dewasa, tapi tidak begitu dengan kelakuannya yang kadang-kadang suka miring. Haha, sekarang kita satu kampus lagi, suka main ke kostan gue gara-gara ada teman satu jurusannya, bukan gara-gara gue. Dasaar lo Nit. Haha.
Rizaldy Muhammad Pohan, bisa dibilang, dia teman sehidup-semati gue di kostan. Dia temen dari SMA, sama-sama berjuang masuk ITB, belajar bareng, pas kuliah sekostan lagi. Kalo mau makan, mau jalan-jalan, pasti ajak Zaldy. Kalo gak ada dia, pasti sepi. Kehidupannya bisa dibilang unik. Dia tinggal terpisah dari orang tuanya. Ayahnya seorang duta besar. Zaldy berhasil memberi tahu saya bahwa gak semua anak pejabat berlaku seenaknya. Dia bisa hidup sederhana, rendah hati, dan tetap bisa mengatur kehidupannya. Saya tahu itu tidak mudah, tapi, dia melakukannya dengan baik sejauh ini.
Fahmy Septian Triasmoro, si anak kepala sekolah yang kaya raya ini, walaupun kelakuannya tengil, pasti gak akan bikin orang lupa sama dia. Pasti adaa aja kelakuannya. Kalau mau perjalanan kemana aja, pasti dia dengan setia ikut dan mencairkan suasana. Gak seru kalo gak denger banyolannya. Hidupnya kayak gak pernah sedih, tapi gue tau My, kalo lo lagi stres. Keliatan dari rambut lo yang asik berat itu! Haha.
Ilman Kurniadi, sebutlah dia teman yang paling setia. Gue akui untuk urusan pertemanan, dia setia banget. Dia bisa ngorbanin banyak hal, sampai harga dirinya, untuk membuat kita tetep bisa jalan-jalan. Hehe. Kalo sama temen, Ilman bisa pedulii banget. Salut. Dan gue tau, yang dia lakukan itu ikhlas, untuk temen-temennya. Gak semua orang bisa berhasil melakukan itu seperti Ilman. Well done, Man. Atur lagi ya jalan-jalan kita!
Dhira Naradwitama, banyak orang bilang, Dhira atau Moo ini mirip ama gue. Yaah, gak tau harus bersyukur atau gak. Moo yang katanya pintar ini, ternyata dari SMA nilainya selalu mepet sama gue. Berarti, kita gak jauh beda ya Moo? Haha. Sampai kuliah juga IPK kita bedanya tipiis banget. Udah jodoh kali Moo. Pas dia diterima ITB duluan via USM Daerah, gue pernah bilang sama Moo, “Moo, jangan tinggalin gue’’. Sounds gay, tapi memang, dia teman yang menenangkan. Moo juga salah satu samsak kita, kalo lagi kesel, silakan pergunakan Moo dengan baik. Heehe.
Wahyu Figura, dia sahabat saya. Saya harus akui itu. Dari SMA, dia yang tau detil mengenai kehidupan saya. Wahyu memang anak aksel. Tapi pemikirannya begitu dewasa. Kalo cerita sama Wahyu, insyaAllah, hasilnya lebih baik. Dia punya sudut pandang dan pemikiran yang berbeda. Sekarang kita satu kampus, satu kostan. Tapi hampir dipastikan dalam satu semester kita ketemu dia gak lebih dari 5 kali. Sukses terus, Yu!
Roy Indra Haryanto, dia cowok terganteng di SMA saya, itu kalau angket di Buku Tahunan diakui. Yaah, gak ada ngaruhnya sama kontribusi dia terhadap hidup gue. Gue inget banyak cerita sama lo, walaupun gak semuanya bisa terpecahkan dengan baik, tapi dia selalu ada waktu gue butuh. Kostannya gak jauh dari kostan gue. Bokap nyokapnya baiknyaaaa luar biasa. Pertemanan kita belom selesai Bung, jangan menyerah!
Krisnaldi Eka Pramudita, saya baru kenal dia karena dia teman satu kostan. Sejauh ini, dia teman yang baik, rela berkorban, tenggang rasa, tepa selira, ramah tamah, dan lainnya. Walaupun kami bari kenal, tapi rasanya ikatan batin ini sudah merambah ke dalam pembuluh nadi terdalam (mulai berlebihan), but yes, saya yakin dia akan jadi teman yang baik. Sampai kapanpun.
Dyna Mariana, benar-benar gue baru kenal Dyna pas di semester 3. Tapi, pertemanan gue dengan dia sudah seperti berlangsung lama. Gue gak tau, apakah ini cuma perasaan gue, tapi, dia adalah salah satu teman yang membuat gue nyaman ada di jurusan saat ini. Dyna temen yang baik dan asik. Tempat cerita yang asik. Dia berhasil bikin gue nyaman lagi. Sampai saat ini, gue masih yakin akan berteman dengan lo, dengan baik. Thanks, ya Dyn!
Miratunnisa Duhati Hardiniziya, awalnya gue kenal Zizie karena dia pacarnya Fay, temen SMA gue. Sekarang udah mantan sih. Pas dulu mau masuk kuliah, dia sibuk nanya-nanya ITB. Sampai akhirnya gak jadi juga masuk ITB. Kostannya di seberang kostan gue. Dan karena menurut gue emang dasarnya dia anak yang baik (atau lebih tepatnya gak suka makan), dia suka menghibahkan cemilan dan makanannya ke gue. Sebagai seorang teman, perhatiannya gue acungi jempol. Semoga gak sementara, ya Tun! Hehe.
Anis Saffira Wardhani, aku juga lupa gimana kita bisa kenal, dek. Tapi yang pasti, pertemanan kita sekarang benar-benar menyenangkan. Dia tempat gue cerita di saat bener-bener buntu. Alhamdulillah, dia selalu punya waktu buat dengerin kehidupan gue yang penuh masalah. Makasih ya, dek
Rhesa Garcia Fendri, teman pertama saya di jurusan. Kepribadiannya sangat bertolak belakang dengan saya. Dibalik ke-beler-annya, dia punya perhatian dan kepekaan yang luar biasa. Sampai-sampai saya salut sendiri. Ketika saya punya masalah, dia bisa tau. Tapi, saya gak pernah tau masalah apa yang ada, karena saya sendiri juga gak tau, apakah dia menganggap itu masalah atau bukan. Well, jalani hidup aja lah ya Rhes, kita masih sejurusan kok. Haha.
Adnan Gadi, si Surabaya ini, dia yang terkini menemani kehidupan saya. Saya gak tau apa saja yang sudah dilakukannya, yang pasti, sebagai teman, dia peduli. Dibalik hidupnya yang santai, luar biasa santai, dia masih bisa peduli. Itu yang menjadi begitu berharga buat saya. Hidup aku sepi kalo ndak ada kau Nan. Baik-baiklah kau ya.
Teuku Azransyah, kurang lebih statusnya sama kayak Adnan. Bedanya dia dari Aceh. Hidup gue juga bakal susah kalo gak ada bocah yang satu ini. Dia bisa banget ngertiin gue. Lagi-lagi, hal itu jauh lebih berharga bagi saya untuk sebuah pertemanan. For you both, thanks for the shared time, for the support that you may not realize, for making our great friendship.
Well, ini kado dari saya untuk mereka yang selalu ada dan support saya
Thanks guys.