Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Januari 18, 2010

Yes, we are (Terra).

Mungkin memang hanya sakit dan kesal yang kami dapatkan dari semua perjuangan dan pengorbanan ini pada awalnya. Hanya keluh kesah, pemberontakan, dan penyesalan yang hadir dan menyeruak ingin kami teriakkan.

Kami sempat terpaksa melalui ini semua sebagai suatu keharusan. Juga sempat mengeluh kapan ini semua berakhir. Bahkan kami juga sempat mengumpat bahwa ini semua tidak ada artinya. Kami yakin ini semua akan sia-sia dan hal yang bodoh.

Memang bukan satu minggu, bukan juga dua bulan waktu yang kami lalui bersama, dengan perasaan seperti ini.

Tetapi hampir 6 bulan.

Ada yang mulai merasa ini sebagai suatu ‘jalan’ yang benar, namun tidak sedikit yang mundur dan menyerah bahwa ini adalah hal yang konyol. Satu persatu dari kamipun mulai tumbang, perasaan dan fisik.

Kami bukan jagoan yang harus selalu ada dalam performa yang prima, juga bukan makhluk tanpa daya untuk tampil setidaknya pas-pasan.

Bila pada awalnya kami begitu menyesal ada dalam perjalanan ini, tapi perlahan kami mulai mengenal satu sama lain. Kami mulai menyadari betapa pentingnya kehadiran satu untuk yang lainnya di tiap harinya. Kami mulai kehilangan atas yang pergi, mulai kesakitan atas yang terluka, mulai berontak atas yang tertindas.

Mungkin itu perasaan yang ingin diwujudkan. Tanpa disadari, kami mulai memupuknya sendiri.

Kami mungkin memang ‘lontong’.

Kami mungkin memang ‘muncung’.

Kami mungkin memang ‘nangis’.

Tapi, dengan apa yang kami punya sekarang, dengan apa yang kami dapatkan dari seluruh proses ini, dengan apa yang kami yakini kami bisa melakukan yang lebih baik,

Kami percaya, bahwa apa yang kami telah lalui ini, adalah suatu anugerah, anugerah untuk bisa mendapatkan pengalaman hidup yang tak ternilai, anugerah untuk dapat menyayangi teman-teman layaknya keluarga, anugerah untuk dapat merasakan nikmatnya berjuang bersama-sama dan memetik hasilnya juga bersama-sama.

Anugerah ini yang harus kami syukuri, anugerah ini yang akan kami kenang selamanya, anugerah ini adalah TERRA.

Yes, we are.

TERRA TERRA TERRA!!!


Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Januari 12, 2010

Kebahagiaan Bukan untuk Dicari, tapi Dipertahankan

Ada kalanya kita mengeluh dengan kehidupan yang penuh dengan ujian dan kesusahan. Kita bahkan berkali-kali berteriak minta ampun menyerah pada kerasnya cobaan yang datang. Memang hidup seperti ini. Ada kalanya kita diberikan ujian atas apa yang kita miliki, ada kalanya kita diberikan kebahagiaan atas apa yang kita impikan, dan ada kalanya kita juga diberikan kesempatan untuk memberikan ujian dan kebahagiaan itu kepada orang lain. Anggaplah demikian.

Manusia memang diberikan kesempatan untuk memilih, rasa bahagia atau rasa sedih. Itu murni pilihan kita. Mengapa demikian? Sesungguhnya kebahagiaan itu sudah diberikan kepada diri kita. Tinggal sekarang, bagaimana kita bisa menafsirkan bahagia itu sebagai suatu perasaan. Bisa juga, tinggal bagaimana kita mempertahankan rasa bahagia itu kalau memang sudah bahagia yang kita dapatkan.

Mempertahankan perasaan bahagia sesungguhnya merupakan suatu wujud rasa syukur yang cukup realistis. Karena apabila kita sedang tidak merasa bahagia, maka kesedihan akan menghantui dan menghancurkan hari-hari yang berujung pada sesuatu yang lebih buruk lagi.

*I’m not sad, but clearly, I’m not happy, at all.

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Januari 2, 2010

Selamat Tahun Baru 2010

Well, untuk pergantian tahun ini, saya ingin turut mengucapkan

Selamat Tahun Baru 2010

Semoga dengan apa yang sudah kita lalui di tahun-tahun sebelumnya, dapat menjadi pelajaran hidup yang hendaknya dijadikan bekal dalam mengarungi hidup di tahun-tahun ke depannya sehingga lebih baik lagi. Tahun baru, bukan berarti dengan semangat baru yang dimulai dari nol. Apabila tahun lalu masih menyisakan semangat, lanjutkan semangat itu. Jangan karena tahun baru, semangatnya mulai dari nol lagi :)

*Btw, thank you for the New Year’s eve together with my friends at Segarra, Ancol. Little dinner, some awesome fireworks, precious time, and a little surprise for my belated birthday.

To Ahmad Murtadho, Dwi Saraswati, Angga Adhitya, Triana Rahajeng, Senandung Nacita and her boy Okke, Garniasih and also her boy Reyhan, Ayudya Soemawinata, Rhein Valleno and his mate Bang Pane, thank you.
Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Januari 1, 2010

Seremonial di Perayaan Pergantian Tahun, memang fenomena.

Berkali-kali saya dengar ceramah di masjid mengenai makna tahun baru. Baik tahun baru Hijriyah (dalam Islam) dan juga tahun baru masehi. Berkali-kali juga saya dengar nasehat dari para khatib (orang yang berkhutbah/berceramah), bahwa sesungguhnya kita sebagai umat beragama dan berbangsa tidak seharusnya melakukan ritual-ritual tahun baru dengan membakar petasan, menyalakan kembang api, meniup terompet, mabuk-mabukan, dll. Apalagi sebagai umat Islam, mungkin para khatib dengan kata lain berpesan bahwa, yang seharusnya dirayakan itu adalah tahun baru hijriyah, bukan tahun baru masehi.

Saya juga mendengar bahwa di tengah banyaknya krisis, kesulitan, dan musibah yang melanda negeri kita, tidak seharusnya kita malah ber-asyik-asyik-an melakukan serangkaian seremonial menyambut pergantian tahun. Bayangkan, betapa banyaknya nominal uang yang dihabiskan untuk membeli petasan dan kembang api yang akhirnya habis terbakar? Padahal, berapa banyak orang miskin dan kesusahan yang seharusnya dapat terbantu dengan uang itu? Itu kata mereka, para ulama dan penceramah.

Tapi, sebelumnya izinkan saya untuk menyampaikan opini ini.

Bisa kita sama-sama liat, berapa banyaknya anak muda yang berhamburan keluar rumah pada saat pergantian tahun? Bahkan sudah dari sebelum jam 12 siang?

Berapa banyaknya keluarga yang sengaja membangun kemah di lingkungan Ancol untuk menikmati malam pergantian tahun?

Atau berapa banyak orang-orang tua yang hanya sekedar keluar rumah untuk melihat kembang api dari halaman belakang?

Apakah mereka semua dari keluarga berada?

Boleh saya tau bagaimana perasaan mereka?

Apakah mereka sedih? Atau memikirkan betapa kembang api yang indah itu sesungguhnya adalah uang yang dihambur-hamburkan? Apakah mereka sempat berpikir bahwa kembang api itu seharusnya menjadi ”jatah” mereka untuk makan siang esok harinya?

Saya tidak tau persis. Tapi, dari ratusan atau bahkan ribuan orang yang saya temui di tengah keramaian massa tadi malam, semuanya bergembira. Ya, mereka bersorak sorai. Bahkan teriakan dan tepuk tangan mereka jauh lebih kencang ketika melihat kembang api yang meluncur dengan lebih besar dan aduhai. Anggaplah mereka memang bahagia dengan semua seremonial ini.

Hal penting yang ingin saya bagi, bahwa mungkin memang, semua kembang api dan petasan yang terbakar itu dibeli dengan uang.

But, hey, look at the bright side!

Banyak tepukan, banyak sorak-sorai, banyak tawa, banyak decak kagum, banyak kebahagiaan bersama orang-orang yang dikasihi, banyak kehangatan, banyak cinta,

yang ada pada malam pegantian tahun, di setiap tahunnya.

Dan semua itu, belum tentu bisa digantikan dengan uang.

*Saya hanya bisa beropini dari sudut pandang yang mungkin sangat subyektif. Tapi, semoga mewakili perasaan banyak orang yang selalu merasa ”disalahkan” atas kebahagiaan yang mereka bagi.

Happy New Year 2010!

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Desember 28, 2009

Terima kasih, Teman-teman dan Kerabat

Ratusan wall di account Facebook, puluhan SMS, puluhan Blackberry Messenger, dan beberapa telfon,

merupakan kado yang luar biasa.

Terima kasih :)

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Desember 27, 2009

There’s nothing so special about birthday, but THEY are.

InsyaAllah, kalau memang tiba waktunya, besok adalah tanggal 28. Dua puluh tahun yang lalu, di hari yang sama, saya lahir, saya mulai diberikan nikmat kehidupan dunia. Bagi saya, tidak ada yang begitu istimewa dengan hari ulang tahun. Hal ini yang mungkin membuat saya jarang sekali men-traktir teman-teman dalam rangka ulang tahun atau bahkan pesta ulang tahun tiup lilin dsb. Mungkin juga karena di keluarga saya, ulang tahun memang hal yang tidak istimewa, ya, seperti hari-hari biasa saja. Ucapan selamat, dan selesai. Tidak ada masalah dengan hal ini. Bagi saya pribadi, yang terpenting adalah hal-hal dibalik pencapaian usia sekian tahun tersebut. Bagaimana kita telah diberikan limpahan nikmat dan berkah untuk disyukuri, bagaimana kita telah diberikan begitu banyak cobaan untuk dilalui agar menjadi dewasa,bagaimana kita telah melakukan sesuatu dan bermanfaat untuk sekitar, dan apa-apa saja yang kita berhasil ‘miliki’ selama hidup.

Terlepas dari semua itu, pada posting-an kali ini, saya ingin membocorkan sedikit banyak teman hidup saya, yang sudah memberikan banyak warna selama 20 tahun kehidupan saya. Semua ini tidak lepas dari rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada mereka, karena tanpa mereka, saya tidak akan pernah merasa lebih baik lagi.

*Bahasa yang digunakan akan sangat beragam, mohon pengertiannya ;)

(These names are randomly sorted)

Anggia Justitia, kita kenal sejak TK ya Nggy? Kau juga udah tau, dan biarlah orang-orang tau, kalau aku naksir sama kau dari TK sampe SD. Setau aku, kita saling kenal, tapi ya, cuma sebatas tau aja, nggak mengenal sebagai teman main. Sampai akhirnya aku pindah ke Duri dan Jakarta. Kita sudah terpisah jauh. Aku cuma bisa inget kalau aku pernah naksir kau, gak lebih. Pas tahun pelajaran baru di kelas 2 SMP, tiba-tiba ada yang nyamperin aku, bilang kalau ada temen dari Riau pindah ke SMP yang sama dengan aku. Waw! Dan ternyata itu Anggia. Yaah, sebenernya gak ada yang terlalu spesial, tapi buat kita, anak rantau, punya temen satu daerah yang asalnya sama itu kesenangan tersendiri. Jadi berasa kayak di rumah, feel safe. Sampai akhirnya kita ada di SMA yang sama. After all, Anggy adalah sosok teman yang hangat dan dinamis. Kisah hidupnya kurang lebih sama dengan saya, entah dia tau atau gak. Dia adalah teman yang jujur, waktu kangen bilang kangen, waktu marah ya dia marah dan kesal, dia bilang semua yang dia rasain. Sampai sekarang, saya masih berhubungan baik dengan dia, walaupun tidak se-intens dulu. ;)

Lystia Amelia, dia teman pertama saya di muka bumi ini. Mungkin itu kata-kata pertama yang paling pas. Ya, ada satu cerita yang gak pernah aku lupa Thy.Gaek kau masuk rumah sakit duluan, ngelahirin duluan, kau tanggal 20 Desember, kan? Tapi gaek aku yang keluar duluan. Tante Imas harus dirawat lebih lama karena ada tulangnya yang retak pasca ngelahirin raksasa bernama Lystia. (hehe, becanda Thy). Kita tetanggaan selama di Iksora, Rumbai. Yaah, kehidupan keluarga satu sama lain udah sama-sama tau lah ya Thy. Aku masih inget, dulu pas SMA, aku pernah nulis tentang kau pas disuruh bikin tugas tentang Best Friend. Data-data foto kau masih ada di aku. ;) Haha. Yaa, pastinya posisi kau sebagai Teman Pertama di Bumi gak akan pernah tergantikan :)

Hendry Magribi, dia teman ku selama dua tahun SD di Duri, Riau. Badannya dulu pas SD gak jauh beda sama aku. Gak tau sekarang. Udah langsing kau Hen? Haha. Entah gimana, tapi kau adalah sahabat yang gak pernah aku lupa sampe sekarang. Walaupun sekarang kita jarang berhubungan, tapi pasti keinget terus. Apa karena ulang tahun kau yang beda seminggu sama aku? Haha, gak tau jugalah ya. Well, hal yang saya gak bisa lupa dari Hendry adalah semangat dan tawa-nya. Dia ternyata juga punya minat yang serupa dengan saya di dunia minyak, terbukti dari sekarang dia ambil Petroleum Engineering di kuliahnya. Dia yang berhasil menyadarkan saya bahwa kita harus semangat dan masa depan itu ada untuk diraih. Semoga kita ketemu di dunia kerja ya Magribi!

Brigitta Della Dyahanggraini, Della! Apa kabar kau sekarang? Dia adalah salah satu sahabat saya di Duri selain Hendry. Perawakannya yang sangar… Ga deng. Berambut agak-agak keriting menjurus kribo, berkelakuan seperti laki-laki, agak cuek walaupun berhati lembut, hal ini yang bikin aku berasa nyaman main sama kau. Haha. Rumahnya cuma berjarak 2 blok dari rumahku, ditambah lagi teras rumahnya yang ber-AC. Gak heran kalo aku suka main ke sana, hehe. Aku masih inget, Della adalah salah satu teman yang membuat aku berat meninggalkan Duri saat itu. Dia ngasih fotonya, dari yang masih jaman kecil imut-imut, sampai fotonya yang terkini masa itu, sebagai kenang-kenangan. Aku masih nemu pas bongkar-bongkar di Jakarta, Del. Masih aku bawa ke mana-mana. Oh iya, frame foto bunga-bunga berglitter itu juga masih ada sampai sekarang. Hehe.

Karamina Raihan, Mina adalah sahabatku, yang ternyata juga sodaraku. Walaupun kau bawel Min, tapi teteplah, gak ada yang bisa ngalahin kau kalau kita lagi telfon-telfonan. Dulu, waktu di Riau, kita bisa telfon-telfonan berjam-jam tanpa bisa diganggu gugat ya Min. Rasanya enak aja kalo cerita sama dia. Sampe sekarang juga kalo tiba-tiba kau telfon, pasti adaa aja yang diobrolin. You are such a very good listener, and a very right person to share many things. Kapan kita ketemu, jalan-jalan, ngobrol lagi, Min? Apa kabar ayah, bunda, Rafi, Fadel?

Astri Rosmikawati, nama yang satu ini gak bakal pernah lupa dari daftar orang-orang yang berhasil mengisi hidup gue. Pertama kali kenal, kirain anak gaul, ternyata, gaulnya paraaaaaaah. Haha, iya gak Coro? Cerita sama dia enak banget, kegaulannya bisa menyeimbangkan kehidupan gue yang ternyata gaul juga (yang ini boongan). Sepertinya jalan hidup yang memisahkan kita. Mulai dari lo SMA di 21, kuliah di jurusan sosial, yaaa semakin jauh aja kita. Hehe. Sampai sekarang masih suka ketemuan, walaupun gak sering. Terakhir ketemu di kafe gaul daerah Senopati, makin gaul aja Chy. Haha.

Niknik Bestar, si Panda Culun a.k.a. Pacul ini benar-benar luar biasa. Bukan hanya berumur lebih tua dari saya, tapi pemikirannya berhasil menyaingi pemikiran saya. Kalo cerita sama dia, pasti advice-nya gak pernah biasa. Adaaa aja. Sedikit banyak gue jadi ngerti seluk beluk kehidupan keluarga lo, juga kehidupan lo. Tapi sayang, tembok Cina memisahkan kita. Haha, ga deng. Niknik adalah sosok wanita yang ‘besar’. Besar hati, besar pemikiran, dan besar badannya :)

Mulki Abi Fadlan, kita udah kenal sejak SD, ya Bi? Gak nyangka sekarang satu kampus lagi, satu fakultas, sekarang satu jurusan, satu kostan, untung aja gak satu kamar atau satu pacar ya? Hehe. Dulu waktu di Duri, aku suka main ke wisma tempat tinggalnya. Entah karena wismanya yang deket sama Commissarry, jadi mampir dulu, atau emang karena aku pengen main-main sama kau. Hehe, bcanda Bi. Sekarang juga Abi jadi partner hidup di kostan yang baik, setia, dan patuh (kayak peliharaan lebih kontrasnya). Satu hal besar yang saya dapat dari Abi, adalah kesabaran baginya adalah hampir tidak berbatas. Dia bener akan satu hal, bahwa kalo sabar, pasti adaa aja jalannya. Tapi, kalau terlalu sabar dan baik mungkin juga gak baik ya Bi buat kesehatan, hehe. Semoga kelak aku bisa sesabar kau Bi. Yang sabar yaa. ;)

Bunga Yuridespita, kita banyak kisah ya Bung. Banyak cerita yang saling di-share. Dua Java Jazz, dan insyaAllah tiga, dengan JJF2010 akan kita lalui bersama. Hahaha. Yaa, walaupun di kehidupan nyata susah ditemui, setidaknya sekali setahun kita pasti ketemu di Java Jazz. Bunga teman yang luar biasa buat cerita. Pemikiran dan jalan hidupnya mirip sama gue. Jadi kalo cerita lebih enak, dia ngerti apa yang gue rasain, ya gak Bung? Gak perlulah ya gue tulis panjang-panjang tentang lo. Lo juga udah tau kan Buuung?

Leta Lestari, hal yang paling berkesan adalah gue berkali-kali dibonceng Leta naik motor. Haha. Gak tau apakah hal itu pantas dipublish di sini, tapi gue mau orang-orang tau, kalo Leta adalah wanita yang tegar dan tangguh. Gue tau gimana perasaan lo pas gak keterima PMDK IPB. Tapi liat kenyataannya sekarang, lo di UI, Let! Itu kan mimpi lo? Well, Leta teman yang asik, dewasa, baik. Suka cerita-cerita. :)

Fanit Akmal B. Hakiman, teman SMA gue yang satu ini unik. Kalau debat sama dia, pasti gak akan ada habisnya. Bisa sampai emosi beneran. Perawakannya dewasa, tapi tidak begitu dengan kelakuannya yang kadang-kadang suka miring. Haha, sekarang kita satu kampus lagi, suka main ke kostan gue gara-gara ada teman satu jurusannya, bukan gara-gara gue. Dasaar lo Nit. Haha.

Rizaldy Muhammad Pohan, bisa dibilang, dia teman sehidup-semati gue di kostan. Dia temen dari SMA, sama-sama berjuang masuk ITB, belajar bareng, pas kuliah sekostan lagi. Kalo mau makan, mau jalan-jalan, pasti ajak Zaldy. Kalo gak ada dia, pasti sepi. Kehidupannya bisa dibilang unik. Dia tinggal terpisah dari orang tuanya. Ayahnya seorang duta besar. Zaldy berhasil memberi tahu saya bahwa gak semua anak pejabat berlaku seenaknya. Dia bisa hidup sederhana, rendah hati, dan tetap bisa mengatur kehidupannya. Saya tahu itu tidak mudah, tapi, dia melakukannya dengan baik sejauh ini.

Fahmy Septian Triasmoro, si anak kepala sekolah yang kaya raya ini, walaupun kelakuannya tengil, pasti gak akan bikin orang lupa sama dia. Pasti adaa aja kelakuannya. Kalau mau perjalanan kemana aja, pasti dia dengan setia ikut dan mencairkan suasana. Gak seru kalo gak denger banyolannya. Hidupnya kayak gak pernah sedih, tapi gue tau My, kalo lo lagi stres. Keliatan dari rambut lo yang asik berat itu! Haha.

Ilman Kurniadi, sebutlah dia teman yang paling setia. Gue akui untuk urusan pertemanan, dia setia banget. Dia bisa ngorbanin banyak hal, sampai harga dirinya, untuk membuat kita tetep bisa jalan-jalan. Hehe. Kalo sama temen, Ilman bisa pedulii banget. Salut. Dan gue tau, yang dia lakukan itu ikhlas, untuk temen-temennya. Gak semua orang bisa berhasil melakukan itu seperti Ilman. Well done, Man. Atur lagi ya jalan-jalan kita!

Dhira Naradwitama, banyak orang bilang, Dhira atau Moo ini mirip ama gue. Yaah, gak tau harus bersyukur atau gak. Moo yang katanya pintar ini, ternyata dari SMA nilainya selalu mepet sama gue. Berarti, kita gak jauh beda ya Moo? Haha. Sampai kuliah juga IPK kita bedanya tipiis banget. Udah jodoh kali Moo. Pas dia diterima ITB duluan via USM Daerah, gue pernah bilang sama Moo, “Moo, jangan tinggalin gue’’. Sounds gay, tapi memang, dia teman yang menenangkan. Moo juga salah satu samsak kita, kalo lagi kesel, silakan pergunakan Moo dengan baik. Heehe.

Wahyu Figura, dia sahabat saya. Saya harus akui itu. Dari SMA, dia yang tau detil mengenai kehidupan saya. Wahyu memang anak aksel. Tapi pemikirannya begitu dewasa. Kalo cerita sama Wahyu, insyaAllah, hasilnya lebih baik. Dia punya sudut pandang dan pemikiran yang berbeda. Sekarang kita satu kampus, satu kostan. Tapi hampir dipastikan dalam satu semester kita ketemu dia gak lebih dari 5 kali. Sukses terus, Yu!

Roy Indra Haryanto, dia cowok terganteng di SMA saya, itu kalau angket di Buku Tahunan diakui. Yaah, gak ada ngaruhnya sama kontribusi dia terhadap hidup gue. Gue inget banyak cerita sama lo, walaupun gak semuanya bisa terpecahkan dengan baik, tapi dia selalu ada waktu gue butuh. Kostannya gak jauh dari kostan gue. Bokap nyokapnya baiknyaaaa luar biasa. Pertemanan kita belom selesai Bung, jangan menyerah! ;)

Krisnaldi Eka Pramudita, saya baru kenal dia karena dia teman satu kostan. Sejauh ini, dia teman yang baik, rela berkorban, tenggang rasa, tepa selira, ramah tamah, dan lainnya. Walaupun kami bari kenal, tapi rasanya ikatan batin ini sudah merambah ke dalam pembuluh nadi terdalam (mulai berlebihan), but yes, saya yakin dia akan jadi teman yang baik. Sampai kapanpun.

Dyna Mariana, benar-benar gue baru kenal Dyna pas di semester 3. Tapi, pertemanan gue dengan dia sudah seperti berlangsung lama. Gue gak tau, apakah ini cuma perasaan gue, tapi, dia adalah salah satu teman yang membuat gue nyaman ada di jurusan saat ini. Dyna temen yang baik dan asik. Tempat cerita yang asik. Dia berhasil bikin gue nyaman lagi. Sampai saat ini, gue masih yakin akan berteman dengan lo, dengan baik. Thanks, ya Dyn!

Miratunnisa Duhati Hardiniziya, awalnya gue kenal Zizie karena dia pacarnya Fay, temen SMA gue. Sekarang udah mantan sih. Pas dulu mau masuk kuliah, dia sibuk nanya-nanya ITB. Sampai akhirnya gak jadi juga masuk ITB. Kostannya di seberang kostan gue. Dan karena menurut gue emang dasarnya dia anak yang baik (atau lebih tepatnya gak suka makan), dia suka menghibahkan cemilan dan makanannya ke gue. Sebagai seorang teman, perhatiannya gue acungi jempol. Semoga gak sementara, ya Tun! Hehe.

Anis Saffira Wardhani, aku juga lupa gimana kita bisa kenal, dek. Tapi yang pasti, pertemanan kita sekarang benar-benar menyenangkan. Dia tempat gue cerita di saat bener-bener buntu. Alhamdulillah, dia selalu punya waktu buat dengerin kehidupan gue yang penuh masalah. Makasih ya, dek ;)

Rhesa Garcia Fendri, teman pertama saya di jurusan. Kepribadiannya sangat bertolak belakang dengan saya. Dibalik ke-beler-annya, dia punya perhatian dan kepekaan yang luar biasa. Sampai-sampai saya salut sendiri. Ketika saya punya masalah, dia bisa tau. Tapi, saya gak pernah tau masalah apa yang ada, karena saya sendiri juga gak tau, apakah dia menganggap itu masalah atau bukan. Well, jalani hidup aja lah ya Rhes, kita masih sejurusan kok. Haha.

Adnan Gadi, si Surabaya ini, dia yang terkini menemani kehidupan saya. Saya gak tau apa saja yang sudah dilakukannya, yang pasti, sebagai teman, dia peduli. Dibalik hidupnya yang santai, luar biasa santai, dia masih bisa peduli. Itu yang menjadi begitu berharga buat saya. Hidup aku sepi kalo ndak ada kau Nan. Baik-baiklah kau ya.

Teuku Azransyah, kurang lebih statusnya sama kayak Adnan. Bedanya dia dari Aceh. Hidup gue juga bakal susah kalo gak ada bocah yang satu ini. Dia bisa banget ngertiin gue. Lagi-lagi, hal itu jauh lebih berharga bagi saya untuk sebuah pertemanan. For you both, thanks for the shared time, for the support that you may not realize, for making our  great friendship.

Well, ini kado dari saya untuk mereka yang selalu ada dan support saya :)

Thanks guys.

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Desember 18, 2009

Allah, sekali saja. Please.

Posting-an kali ini tidak akan terlalu panjang. Hanya untuk mewakili perasaanku yang begitu singkat dan tidak terlalu jelas.

Tidak banyak yang bisa aku tuliskan di sini. Karena mungkin perasaan ini bukan untuk diketahui orang lain, atau mungkin tidak ada yang mau tau.

Aku cuma mau bilang,

Aku merindukan saat-saat itu. Saat kita masih dalam satu. Aku hanya bisa iri melihat orang lain. Demi Allah, aku rindu kita semua bersama. :(

*Insya Allah, mereka tau maksudku. Aku hanya ingin menjadi kuat untuk mereka.


Allah, boleh aku minta sekali lagi saja?

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Desember 8, 2009

Selamat Jalan, Nindy.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun.

Telah berpulang ke rahmatullah,

Nindityas Idhayanti Putri

(Kelas aksel SD IKIP, SMP Labs Rawamangun, SMAN 68 Jakarta, Decision Science-Universiti Utara Malaysia)

Karena kanker paru-paru pada pukul 23.00 WIB tanggal 7 Desember 2009.

Rencana pemakaman hari ini 8 Desember 2009 di TPU Kemiri Rawamangun, ba’da (setelah) Zuhur,

Semoga arwahnya diterima di tempat terbaik oleh Allah SWT. Dilapangkan kuburnya. Dihapuskan dosa-dosanya. Dilancarkan  peristirahatan terakhirnya.

*Nindy, gw masih inget obrolan terakhir kita tentang masa depan kita, skype-an pas lo lg di kafetaria kampus lo dan gw di kostan, terus kita masih janji mau skype-an lagi. Dua minggu yang lalu, kita mau jenguk lo, tapi lo bilang gak usah karena lo gak kuat ngomong apalagi gerak. You’re the best Nindy.

My very last memory with Nindy:

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Desember 7, 2009

Inilah kami, TG08.

Tidak pernah terbersit sedikitpun bahwa seperti ini ternyata metode kaderisasi, pelantikan, atau apapun namanya yang akan kami, para mahasiswa Teknik Geofisika angkatan 2008 rasakan.

Pada awalnya, kami semua utuh dalam semangat, bahwa ini adalah jalan yang harus kami hadapi.

Tidak mengeluh, tidak menyerah.

Kami melalui masa-masa yang mungkin tidak dirasakan oleh teman-teman di jurusan lain yang ada di kampus yang sama. Saat kami mengeluh, sebenarnya kami sedang menabung kebahagiaan atas penderitaan yang kami rasakan selama ini. Saat kami kelelahan, sebenarnya kami sedang menabung semangat untuk menjalankan kehidupan-kehidupan baru, nantinya, setelah kami dilantik.

Awalnya, mungkin memang kami merasa lelah, capek, penat, dan apapun itu namanya. Kami ingin sekali cepat menyelesaikan rangkaian acara ini. Kami ingin cepat mendapatkan apa yang mereka sebut ‘jahim’ atau ‘jakor’ itu (jaket himpunan atau jaket oren untuk jurusan TG). Yang penting selesai, yang penting dapet jakor.

Satu persatu teman-teman di jurusan lain sudah diakui melalui pelantikan dan jahim yang mereka dapat pamerkan di kampus. Bahkan pada puncaknya, weekend ini, lebih dari 5 jurusan yang katanya dilantik. Dan mau tidak mau, kami harus melihat berbagai warna jahim berseliweran di lingkungan kampus. Biarlah.

Mungkin memang kami yang paling lama. Memang kami yang paling tersiksa. Mungkin juga kami yang paling belum bisa membanggakan jahimnya.

Tapi mungkin kami yang tau bagaimana harus memperlakukan wanita di alam liar, bagaimana memutuskan sesuatu di saat genting tanpa merugikan teman yang lain, bagaimana berpikir kritis untuk menyelamatkan teman-teman yang lain, betapa pentingnya mempunyai fisik dan mental yang kuat, dan bagaimana membangun sebuah komunikasi dalam suatu kelompok yang tidak sedikit jumlahnya.

Sekarang, setelah semua teman-teman yang lain selesai mendapatkan jahim mereka, apakah mereka dapat apa yang kami dapat?

Saya pun tidak tahu pasti.

Secara pribadi, jujur, saya merasa sangat bersyukur atas keberadaan saya di tengah-tengah teman-teman TG08. Atas apa yang sedang melanda kita, atas bagaimana kita semua melaluinya dengan luar biasa.

Semangat kita, para TG08, tidak boleh pupus sampai kapanpun.

Bukan jaket itu tujuan kita. Bukan pelantikan itu akhir perjalanan ini.

Kita keluarga, tidak akan ada batas waktu untuk kita. :)


Oleh: Muhammad Cipta Suhada | November 24, 2009

Jadikan Kami Utuh

Aku bukanlah hamba-Mu yang mendekati sempurna, apalagi sempurna. Aku penuh khilaf, penuh kesalahan, dan penuh dosa. Aku pernah menangis di atas kebahagiaan orang lain. Aku pernah tertawa di atas kesedihan orang lain. Aku juga pernah mengacuhkan perintah orang tuaku.

Aku sedang berjalan, ya Allah. Aku berjalan menyusuri kesempatan hidup yang Kau berikan padaku. Aku sedang berusaha memanfaatkan perjalanan ini. Aku berusaha melakukan dan menjadi baik, bagi-Mu, ya, Rabb-ku.

Aku selalu Kau uji. Aku selalu Kau tegur dengan banyak cara-Mu. Aku selalu Kau peringatkan bahwa betapa Kau menyayangiku dengan peringatan-Mu. Aku sempat terjatuh dan tak berdaya. Aku sempat terperosok lebih dalam lagi dalam kebimbangan dan keputusasaan. Aku sempat begitu kecewa. Aku juga sempat menangis karena tak berdaya lagi, ya Allah.

Aku tau dan sadar bukan hanya aku yang Kau uji dengan ujian paling berat seperti yang kurasa pernah Kau berikan. Aku sadar bukan aku orang paling menderita di dunia-Mu ini. Aku tau Kau mengujiku dalam batas kemampuanku. Aku sadar kau mengujiku karena Kau mencintaiku. Aku tau Kau takkan pernah melepaskanku dari pengawasan-Mu, walau sedetikpun.

Kau berikan aku kehidupan yang luar biasa. Kau berikan aku nikmat yang tak sanggup aku hitung. Kau berikan aku segala yang menjadi kebutuhanku. Kau bahkan berikan aku nikmat di luar dugaanku. Kau berikan aku banyak kesempatan memperbaiki diri. Kau bahkan berikan aku peluang untuk meraih mimpi-mimpiku. Kau berikan aku mimpi untuk kuraih. Kau berikan aku semangat dalam menjalani perjuangan hidup ini.

Allah yang Mahabaik,

Aku hamba-Mu yang lemah. Aku hamba-Mu yang berlumur dosa. Aku hamba-Mu yang takkan pernah menjadi sempurna. Aku hamba-Mu yang selalu akan punya banyak keinginan.

Aku memohon satu keinginan, saat ini, ya Allah.

Aku memohon Kau lindungi keluargaku, yang sudah menjadi separuh jiwaku, yang sudah bersama-sama melalui berbagai cobaan-Mu, yang sudah pernah Kau uji.

Aku memohon jadikan kami kuat. Jadikan hamba tangguh. Jadikan hamba tidak mengeluh.

Jadikan kami utuh.

 

*This post is dedicated for my siblings; Nun, Mim, Inil, and Bearl. We can make it.

 

Tulisan Sebelumnya »

Kategori