Oleh: Muhammad Cipta Suhada | November 24, 2009

Jadikan Kami Utuh

Aku bukanlah hamba-Mu yang mendekati sempurna, apalagi sempurna. Aku penuh khilaf, penuh kesalahan, dan penuh dosa. Aku pernah menangis di atas kebahagiaan orang lain. Aku pernah tertawa di atas kesedihan orang lain. Aku juga pernah mengacuhkan perintah orang tuaku.

Aku sedang berjalan, ya Allah. Aku berjalan menyusuri kesempatan hidup yang Kau berikan padaku. Aku sedang berusaha memanfaatkan perjalanan ini. Aku berusaha melakukan dan menjadi baik, bagi-Mu, ya, Rabb-ku.

Aku selalu Kau uji. Aku selalu Kau tegur dengan banyak cara-Mu. Aku selalu Kau peringatkan bahwa betapa Kau menyayangiku dengan peringatan-Mu. Aku sempat terjatuh dan tak berdaya. Aku sempat terperosok lebih dalam lagi dalam kebimbangan dan keputusasaan. Aku sempat begitu kecewa. Aku juga sempat menangis karena tak berdaya lagi, ya Allah.

Aku tau dan sadar bukan hanya aku yang Kau uji dengan ujian paling berat seperti yang kurasa pernah Kau berikan. Aku sadar bukan aku orang paling menderita di dunia-Mu ini. Aku tau Kau mengujiku dalam batas kemampuanku. Aku sadar kau mengujiku karena Kau mencintaiku. Aku tau Kau takkan pernah melepaskanku dari pengawasan-Mu, walau sedetikpun.

Kau berikan aku kehidupan yang luar biasa. Kau berikan aku nikmat yang tak sanggup aku hitung. Kau berikan aku segala yang menjadi kebutuhanku. Kau bahkan berikan aku nikmat di luar dugaanku. Kau berikan aku banyak kesempatan memperbaiki diri. Kau bahkan berikan aku peluang untuk meraih mimpi-mimpiku. Kau berikan aku mimpi untuk kuraih. Kau berikan aku semangat dalam menjalani perjuangan hidup ini.

Allah yang Mahabaik,

Aku hamba-Mu yang lemah. Aku hamba-Mu yang berlumur dosa. Aku hamba-Mu yang takkan pernah menjadi sempurna. Aku hamba-Mu yang selalu akan punya banyak keinginan.

Aku memohon satu keinginan, saat ini, ya Allah.

Aku memohon Kau lindungi keluargaku, yang sudah menjadi separuh jiwaku, yang sudah bersama-sama melalui berbagai cobaan-Mu, yang sudah pernah Kau uji.

Aku memohon jadikan kami kuat. Jadikan hamba tangguh. Jadikan hamba tidak mengeluh.

Jadikan kami utuh.

 

*This post is dedicated for my siblings; Nun, Mim, Inil, and Bearl. We can make it.

 

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | November 1, 2009

Mungkin Belum Sekarang Saatnya

Kita pernah saling berkata soal cinta. Sampai ketika kita begitu ingin memiliki satu sama lain. Mengungkapkan perasaan cinta seperti layaknya sepasang kekasih.

Bukan kisah cinta normal seperti pasangan lainnya yang kita lakoni. Tapi, kau dan aku tetap tegar dalam cinta kita. Banyak omongan. Banyak hembusan kabar burung. Banyak hujatan. Namun, perasaan kita ternyata tetap sama.

Hari demi hari, bulan demi bulan, sampai akhirnya kita merancang masa depan yang begitu indah untuk cinta ini. Ya, begitu menyenangkan membayangkannya. Kau tersenyum, akupun begitu.

Memang bukan seperti kisah cinta pangeran dan permaisuri dalam dongeng, tapi kurasakan cerita ini begitu luar biasa. Penuh misteri dan pelajaran. Sampai kupikirkan ini sebuah pertanda dari-Nya. Aku bertahan kalau begitu. Dan aku mulai berpikir cinta ini karena-Nya. Cinta ini ada karena kehendak-Nya. Dan aku harus memperlakukanmu seperti yang Dia kehendaki. Agar aku dan kau, ada dalam kekuatan cinta yang abadi seperti yang selalu kita impikan.

Ada masalah, ada cinta, ada amarah, ada sayang, ada kesal, ada perhatian, ada muak, ada rindu.Semuanya turut hadir mengisi hari-hari hubungan ini.

Memang kurasakan sungguh perasaan ini sebenarnya kuat. Tidak kuhiraukan yang lain sampai hanya kau yang ada dipikiranku. Begitu juga dengan kau. Kau cerita lebih banyak lagi hati yang mencoba mengusik perasaanmu padaku. Tapi kau bertahan, untukku.

Namun, kini. Sampai jarak yang memisahkan kita, permasalahan turut mengisi komunikasi yang menjadi satu-satunya cara untuk kita mempertahankan perasaan yang sudah mulai sulit untuk dipertahankan lagi.

Kau sibuk dengan urusanmu, begitu juga aku, sibuk dengan urusanku.

Sampai detik kau putuskan untuk tidak melanjutkan hubungan ini lagi, aku sudah siap. Karena sungguh, aku mencintaimu karena-Nya. Aku siap karena Dia yang merancang ini semua untuk kita. Apalah daya kita yang lemah ini.

Kini, aku hanya dapat meminta pada-Nya, yang menjadi sutradara atas kisah cinta ini. Semoga Dia memberikan kau penggantiku apabila ternyata bukan aku yang terbaik bagimu, atau mungkin, terus menjaga perasaan ini untuk suatu saat nanti apabila memang kau jodohku. Agar kau diberikan kekuatan untuk dapat bertahan dalam hidup yang sesungguhnya. Tidak semua yang indah yang harus kita hadapi, untuk menjadi hamba-Nya yang kuat.

Untuk kisah cinta kita,

Aku sayang kamu, tapi mungkin belum sekarang saatnya.

 

1 November 2009, di 127 km jauhnya darimu.

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Oktober 25, 2009

Her name is Queen Khalisha Binartha

This posting is purposed to congratulate my sister, Farah Fitrianie, and my brother-in-law, Ciptadhi Tri Oka Binartha for the normal bearing process of their first daughter on Thursday, October 22, 2009 at 11.30 AM in Bekasi.

Image0083
Adly nanda

Hope the growing-up-baby for the best in every aspects of her growing path. Become a very nice, smart, and sholehah daughter. Always become our angel. Like you already did, since last Thursday of your born day.

Her name is Queen Khalisha Binartha ;)

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Oktober 20, 2009

Kutemukan Ia di Sudut Ruang itu (part. 2)

Ia mengeluarkan secarik kertas yang kumal dari dalam saku lusuhnya. Dengan lemah, ia berusaha memberikan surat itu kepadaku. Kubantu dirinya untuk meraih surat itu, mungkin ini sebuah pertanda atas tanda tanyaku daritadi.

Keningku mengkerut.

Aku tak dapat membaca tulisan yang ada pada surat itu. Kertasnya begitu kotor, terjejak alas sepatu, sebagian sudah robek-robek, dan beberapa huruf sudah mulai tidak terbaca.

IMG00390-20091020-0652

Akkkh..” pikirku dalam hati. Tulisan ini begitu tua. Aku tidak dapat mengeja seluruh kalimat yang ada dalam surat ini.

Aku berusaha keras sekali. Begitu keras. Sampai tanpa kusadari, sudah lima jam sejak pertama kali aku berjumpa dengan anak kecil ini dan ingin membantunya.

Perutku mulai lapar. Dahaga mulai menusuk kerongkonganku.

Kuajak anak kecil itu untuk keluar dari ruangan yang sangat pengap itu. Tapi ia menggeleng. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya. Ruangan ini sama sekali tidak memberikannya kenyamanan. Seharusnya. Tidak ada sirkulasi udara yang menyegarkan, tidak ada makanan dan minuman, tidak ada cahaya yang cukup, dan tidak ada kebahagiaan. Kuajak sekali lagi. Tapi ia tetap tidak ingin keluar dari ruangan itu.

Habis akalku. Lapar dan haus yang kurasakan sudah mulai membuncah, merasuki keseluruhan tubuhku. Aku memang belum makan daritadi pagi. Kini matahari sudah hampir terbenam.

Dengan terpaksa aku meninggalkan ia untuk sementara, ya di ruang gelap ini.

Kupercepat langkahku menuju warung terdekat. Delapan ratus meter langkah cepat kakiku tidak terasa melelahkan. Karena perutku jauh lebih merintih.

Kutemukan warung kecil yang apa adanya.

IMG00391-20091020-0704

Aku bersyukur, setidaknya lapar dan dahagaku bisa teratasi untuk beberapa saat. Kuteguk air mineral kemasan secepat mungkin. Betapa nikmatnya air ini. Kulahap dua bungkus roti, ya, lumayan untuk mengganjal lambungku yang mulai kesakitan.

Begitu tergesanya, aku membeli 5 bungkus roti dan 10 air mineral kemasan kecil untuk anak kecil yang kutinggalkan tadi di sana.

Aku berlari, perasaan khawatirku begitu besar. Aku takut sampai terjadi sesuatu yang tidak baik padanya di sana.

Kubuka pintu yang rapuh itu.

Tidak! Aku terlambat!“, pikirku dalam hati.

Anak kecil itu sudah tersungkur, tak berdaya. Aku begitu panik. Apa yang harus kulakukan.

Tanpa banyak tanya dan pikir lagi, kubawa ia ke rumah penduduk terdekat. Ini salah satu hikmahnya, mau tak mau, ia keluar juga dari ruangan itu.

Setelah susah payah aku menggotong anak ini seorang diri, tidak ada satu rumahpun yang mau membukakan pintunya untuk menolong anak ini, tidak ada satu hatipun yang terketuk untuk memberikan bantuan.

Seperti melihat hantu.

Kuhiraukan pikiran itu sejenak. Yang terpenting saat ini adalah aku harus menyelamatkan anak ini. Dia tidak boleh kenapa-napa.

Entah mengapa perasaan khawatirku begitu besar. Sampai akhirnya, setelah kulalui sekitar 2 kilometer jauhnya, kutemukan sebuah rumah dokter yang juga sudah tua.

Kugoyangkan gembok yang menggantung di pagar rumah itu. Memberikan isyarat akan kehadiranku. Setelah lima menit menunggu, keluarlah seorang wanita paruh baya. Ramalanku, ia adalah penjaga rumah ini. Ia mengatakan bahwa sang dokter sedang tidak ada di rumah.

“Ya, Allah. Jangan lagi. Jangan lagi kau tambahkan langkahku mencari pertolongan untuk anak ini. Aku takut ia tidak kuat lagi,” pekikku dalam hati.

Kusampaikan sejuta alasanku kepada wanita ini. Syukurlah ia mengizinkanku untuk menunggu kehadiran dokter di dalam, ya, sampai sang  dokter kembali dari dinasnya di tengah kota.

Dalam tungguku, wanita itu menyuguhkan dua cangkir teh hangat. Dahagaku memang sudah muncul lagi. Aku terus berusaha membangunkan anak kecil itu. Tapi ia tetap diam tak berdaya.

Sekali lagi kuberusaha, matanya yang sayu mulai terbuka, bibirnya yang kering mulai bersuara.

(Bersambung)

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Oktober 8, 2009

Kutemukan Ia di Sudut Ruang itu (part. 1)

Aku bertemu dengan seorang anak kecil. Ia berdiri di sana, ya, di sudut ruang gelap yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Anak kecil itu tampak begitu galau. Wajahnya tampak murung, pakaiannya kumal, badannya kurus, rambutnya tidak beraturan, seperti sudah berhari-hari tidak bertemu dengan matahari dan makanan.

Tiba-tiba ia membalas tatapan heranku. Aku terkejut. Matanya merah, tapi tidak menakutkan. Hatiku tersentuh melihat tatapan merananya. Sepertinya ia baru saja menangis.

Aku berjalan mendekatinya. Ia tampak ketakutan. Ruang gelap yang lembab ini tampaknya sudah merenggut kebahagiaan anak kecil itu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang menyebabkan ia menangis, sampai ia begitu kehilangan asa.

Kumulai percakapanku dengannya. Dan kuharap ia dapat berkata sepatah saja untuk membukakan jalan bagiku membantunya. Kusapa dengan perlahan, agar ia tidak merasa khawatir dengan orang asing. Namun, ia hanya diam menatapku. Sekujur tubuhku merinding. Mengapa ia hanya diam.

Kucoba untuk terus mengajaknya berbicara.

Lalu, ia mulai berbicara. Dengan terisak-isak, nada bicara yang begitu rendah, ia mulai berbicara. Ia menanyakan siapa aku. Untuk memberikannya rasa aman, aku mengenalkan diriku kepadanya. Dia tenang, untuk saat itu. Walaupun aku masih berada dalam tanda tanya yang besar.

Akupun bertanya kepada anak itu, apa yang ia lakukan di ruangan ini. Dia hanya diam. Sepertinya ia tidak ingin terlalu banyak bicara, atau mungkin, ia pun juga tidak tahu mengapa ia ada di sini.

Sekarang, aku benar-benar bingung. Aku bingung bagaimana membantunya memecahkan permasalahan hidupnya yang tampak begitu besar. Ya, itulah perkiraanku, ia sedang dilanda kebingungan.

Kuajak ia untuk duduk di dekat jendela tak jauh dari tempatnya berdiri. Kuharap cahaya yang menerobos masuk ke dalam ruangan itu dapat menerangi pikirannya untuk dapat berbagi kesedihannya denganku. Karena jujur, aku ingin membantunya. Aku ingin mengakhiri kemelut perasaan hatinya yang teramat dalam. Ia menurut denganku.

Ia terduduk diam. Menundukkan kepalanya, tanda ia ingin berbicara lagi. Aku terus membujuknya, sampai habis akalku. Dalam diam, tiba-tiba ia menangis. Lagi. Aku berusaha mendiamkannya. Menenangkan hatinya. Akhirnya tangisannyapun berhenti.

Kucoba menguatkan hatiku untuk menenangkannya. Kutanya ada apa sebenarnya.

Ternyata, ia sudah 8 hari di ruang yang gelap dan tua itu. Aku terkejut. Bagaimana ia dapat bertahan ada di sana. Limabelas menit aku di sana saja, dadaku sesak sekali rasanya. Ia mengaku memang belum makan sejak hari pertama ada di sana. Hanya dengan sebuah keran tua, yang syukurnya, masih mengalir air dari dalamnya. Ya, ia hanya bertahan dengan air keran di sana.

Mahabesar Allah, ujarku dalam hati.

Lalu, kucoba dekatkan hatiku padanya. Kutanyakan mengapa ia bisa sampai ada di sini.

Lagi-lagi ia terdiam.

(Bersambung)

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Oktober 7, 2009

Theodolite, BTM, dan Waterpass [Geodesi]

S

eperti yang telah dijelaskan dalam responsi hari Kamis, 30 Oktober 2009 yang lalu, dalam ilmu pengukuran tanah (Geodesi), untuk mengetahui ketinggian dan mengukur perbedaan ketinggian (kemiringan) tanah, kita tentunya membutuhkan beberapa alat-alat dalam praktiknya. Alat-alat tersebut antara lain theodolite, BTM, dan waterpass. Agar dapat bekerja dengan maksimal, alat-alat ini harus digunakan dalam keadaan centering, yaitu keadaan datar dan tidak ada perbedaan ketinggian antara ketiga kaki penyangganya sama sekali. Kita juga harus memperhatikan intensitas cahaya yang masuk ke dalam alat yang kita gunakan agar objek dan bacaan skala yang hendak kita amati dapat terlihat dengan jelas. Berikut akan dijelaskan alat-alat tersebut secara rinci:

1. Theodolite

T

heodolite adalah alat yang dirancang untuk pengukuran sudut, yakni sudut mendatar yang dinamakan sudut horizontal dan sudut tegak yang dinamakan sudut vertikal. Sudut-sudut tersebut mempunyai peran dalam menentukan jarak mendatar dan jarak tegak di antara dua buah titik di tempat eksperimen atau lapangan.

Bagian atasnya, terdiri dari sumbu kedua yang diletakkan di atas kaki penyanggah sumbu. Pada sumbu kedua, diletakkan teropong yang mempunyai diafragma dan dengan demikian mempunyai garis bidik. Pada sumbu ini pula diletakkan plat yang berbentuk lingkaran tegak sama seperti plat lingkaran mendatar.

Bagian tengahnya, terdiri dari sumbu yang dimasukkan ke dalam tabung dan diletakkan pada bagian bawah. Sumbu ini adalah sumbu tegak lurus kesatu. Di atas sumbu ini diletakkan lagi plat berbentuk lingkaran yang mempunyai jari-jari plat pada bagian bawah. Pada dua tempat di tepi lingkaran, dibuat alat pembaca nonius. Di atas plat nonius, ditempakan dua kaki penyangga, sumbu mendatar atau sumbu kedua, dan suatu nivo tabung diletakkan untuk membuat sumbu kesatu tegak lurus. Lingkaran dibuat dari kaca dengan garis-garis pembagian skala dan angka digoreskan di permukaannya. Garis-garis tersebut sangat tipis dan jelas lebih, lebih tajam jika dibandingkan goresan pada logam. Lingkaran dibagi dalam derajat seksagesimal, yaitu suatu lingkaran penuh dibagi dalam 360 derajat atau grades sentisimal, yaitu lingkaran penuh dibagi dalam 400g.

Bagian bawahnya, terdiri dari plat dasar dengan tiga sekrup penyetel yang menyanggah tabung sumbu dan plat mendatar berbentuk lingkaran. Pada tepi lingkaran dibuat pengunci limbus.

Memiliki nivo bulat dan kotak yang digunakan untuk proses centering, mikroskop dengan lensa objektif dan okuler, tempat pembaca hasil pengukuran, knop penyama ketinggian vertikal dan horizontal, dan penangkap cahaya.

Cara kerja:

  1. Letakkan nivo bulat pada posisi centering dengan cara memutar kedua knob yang terdapat pada teodolit.
  2. Begitu juga dengan nivo kotak.
  3. Setelah seimbang, fokuskan benda, kunci horizontal, setelah itu agar benda benar-benar pada posisi yang pas geser knob benang halus, lalu kunci vertikal.
  4. Intip mikroskop tempat pembaca hasil pengukuran, catat hasil pengukuran dalam derajat, menit, dan detik. Dalam satu derajat terdapat 60 skala menit, dan dalam 1 menit terdapat 2 skala detik, yaitu 20 detik dan 40 detik.

2. Boussole Tranche Montagne (BTM)

B

TM berfungsi untuk mengukur sudut-sudut mendatar di mana pada BTM digunakan jarum magnet. Pembacaan pad askala mendatar digunakan ujung utara jarum magnet tersebut. Konstruksi bagian bawah dengan sumbu kesatunya sama dengan konstruksi pada alat ukur theodolit reiterasi. Sumbu kesatu yang konis dimasukkan ke dalam plat P yang berdiri di atas tiga sekrup penyetel. Plat P diletakkan di atas sumbu kesatu dan di atas plat P diletakkan suatu Dos D. Di dalam Dos D yang berbentuk silinder ditempatkan suatu lingkaran berskala. Suatu jarum magnet diletakkan di atas suatu poros S, poros mana berimpit dengan poros kesatu. Dos D ditutup dengan kaca untuk menahan debu yang mungkin dapat masuk ke dalam dos dan dapat melanggar pemutaran jarum magnet. Karena poros dibuat dari akik, maka pada saat BTM diangkut, jarum magnet jangan sampai bergerak, yang dapat merusak poros akik.

Pada plat P ditempatkan sumbu kedua, sb2, yang ada teropong T sehingga dapat ditentukan keadaan tegaknya dengan lingkaran berskala dengan nonius n. Penempatan teropong tidak di atas sumbu kesatu, dinamakan penempatan eksentris. Di atas plat P diletakkan pula nivo untuk membuat sumbu kesatu tegak lurus. Sekrup penekan (klem) digunakan untuk menekankan sumbu kesatu, sehingga semuanya tidak dapat diputar lagi dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar.

Memiliki 2 nivo tabung yang berguna pada saat centering, lensa objektif, lensa okuler, penangkap cahaya, busur pengukur sudut, knob fokus, dan knob penggerak benang halus.

Cara kerja:

  1. Pasang tiang penyanggah pada ketinggian yang sama dengan ketinggian benda yang akan diukur.
  2. Nivo tabung keduanya harus pas di tengah agar posisi BTM seimbang, dilakukan dengan cara memutar knob-knob.
  3. Intip lensa okuler, fokuskan posisi benda yang akan diukur dengan menggeser knob benang halus.
  4. Catat ketinggian tiang.
  5. Ulangi langkah yang sama pada tempat lain yang akan dicari selisih ketinggiannya.

3. Waterpass

W

aterpass adalah alat mengukur beda ketinggian dari satu titik acuan ke acuan berikutnya. Waterpass ini dilengkapi dengan kaca dan gelembung kecil di dalamnya. Untuk mengecek apakah waterpass telah terpasang dengan benar, perhatikan gelembung di dalam kaca berbentuk bulat. Apabila gelembung tepat berada di tengah, berarti waterpass telah terpasang dengan benar. Pada waterpass, terdapat lensa untuk melihat sasaran bidik. Dalam lensa, terdapat tanda panah menyerupai ordinat (koordinat kartesius). Angka pada sasaran bidik akan terbaca dengan melakukan pengaturan fokus lensa. Selisih ketinggian diperoleh dengan cara mengurangi nilai pengukuran sasaran bidik kiri dengan kanan.

Memiliki nivo sebagai penyama ketinggian, lensa objektif, lensa okuler, dan penangkap cahaya.

Cara kerja:

  1. Nivo kotak harus tepat berada di posisi tengah, caranya dengan memutar knob pengatur keseimbangan.
  2. Pasang tiang atau kaki-kaki penyanggah pada ketinggian yang akan diukur.
  3. Intip lensa okuler, fokuskan pada tiang (objek) yang akan diukur.
  4. Catat ketinggian tiang.
  5. Ulangi langkah yang sama pada tempat yang akan dicari selisih ketinggiannya.
Oleh: Muhammad Cipta Suhada | Oktober 1, 2009

Bertahanlah, Saudaraku..

Belum selesai derita ini.

Bumi pertiwi, luluh lantak.

Diam dan tak berdaya.

Tanah tempat bepijak, bergetar, kencang sekali.

Rumah tempat berteduh, tak tahan terus berdiri.

Satu, dua, lima puluh, dan ratusan jiwa.

Melayang.

Menjadi korban,

Bukan Engkau yang salah, ya Allah.

Pasti.

Bukan Engkau yang salah.

Ini semua salah kami.

Izinkan kami untuk mempunyai kesempatan itu.

Sekali lagi, untuk lebih mencintai-Mu.

Saudara-saudaraku, ada di sana.

Dulu mereka dapat tertawa,

Namun kini, mereka begitu gundah.

Ya Allah, kuatkanlah mereka.

Mereka pasti bisa menghadapi semua ini.

Bertahanlah, Saudaraku..

wajah-bahagia

*Setelah Tasikmalaya, kini Padang dan Jambi. Saudara-saudaraku, kalian pasti kuat. Kalian pasti bisa bertahan untuk dapat terus tersenyum menerima cobaan ini. Allah akan selalu bersama kita. Allah akan selalu mencintai umat-Nya. Kalian harus bisa. :)

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | September 30, 2009

1709

Bukan angka keramat, bukan 17 September, dan bukan juga kombinasi kunci gembok. 1709 adalah unit tempat saya di karantina selama lebih dari 2 minggu pada saat mengikuti Pemilihan Abang None Jakarta 2009 di Grand Tropic Suites Hotel, Jakarta Barat.

Posting-an ini saya dedikasikan kepada keenam penghuni unit kamar tersebut; Nara Radhitya Kosasih (Kep. Seribu), Ivan Kurnia Budianto (Jakarta Selatan), Anom Adimasetio (Jakarta Selatan), Muhammad Ghivari (Kep. Seribu), Tegar (Jakarta Timur), dan saya, Muhammad Cipta Suhada (Jakarta Barat).

1709

Well, saya cuma mau mengenalkan penghuni-penghuni unit ini yang sudah mengisi hari-hari karantina saya, sehingga menjadi lebih berwarna, sedikit. :)

Kita mulai dari penghuni unit pertama, Bang Ivan dan Bang Nara.

bang ivanNama: Ivan Kurnia Budianto
Jabatan: Wakil I Abang Jakarta Selatan 2009
Pendidikan terakhir: Lulusan S-1 Teknik Industri, Universitas Pancasila
Testimonial: Bang Ivan terkenal dengan ke-cool-annya. Dia tidak banyak bicara, tetapi berhasil menunjukkan bukti otentik keeksisannya di dunia permodelan. Ia muncul di beberapa billboard di jalanan ibukota, muncul di iklan media cetak, dsb.

bang nara

Nama: Nara Radhitya Kosasih
Jabatan: Wakil I Abang Jakarta Kep. Seribu 2009
Pendidikan terakhir: Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Pelita Harapan
Testimonial: Bang Nara adalah sosok abang yang bersahaja. Di wilayahnya, dia berhasil mendapatkan seorang none (Dasar buaya lo, Nar. Hehe, becanda). Ia dapat menempatkan diri dengan baik sekali. Pada saat bercanda, dia bisa konyoool, dan pada saat diskusi, dia bisa terlihat begitu pintar. Terkadang dia bisa jadi pendiam kalau sedang ada masalah. Kelakuannya yang suka kadang-kadang ajaib, membuat suasana kamar menjadi berwarna.

Selanjutnya adalah penghuni kamar kedua, Bang Tegar dan saya (Kalau testimonial tentang saya, gak perlu, kan? Hehe).

bang tegarNama: Tegar
Jabatan: Abang Jakarta Timur 2009
Pendidikan terakhir: Psikologi, Universitas Indonesia
Testimonial: Bang Tegar adalah salah satu teman yang sangat perhatian. Senyumnya sangat khas, hampir sama di setiap foto, mirip dengan saya. Sebelum kenal pribadinya, saya pikir Tegar adalah orang yang sangat ‘dingin’ dan berwibawa. Ternyata..*peace, Gar. Selama dua minggu karantina, 90% saya habiskan dalam keadaan terkapar dan tidak fit. Sebagai teman sekamar, ntah terpaksa atau tidak, Tegar selalu setia melayani saya. Haha. Dia yang menawarkan diri untuk sekamar dengan saya ketika hari pertama saya sudah tepar, suka ngambilin makanan, izinin kalau tiba-tiba saya tidak kuat, ambilin obat, ambilin HP yang ditahan selama pembekalan materi, juga kita saling sharing dasi dan kemeja. Kami banyak bertukar cerita kehidupan di luar Abnon. Ternyata Tegar sudah mulai kuliah sejak tahun 2006 di sebuah sekolah tinggi untuk menjadi direktur. Begitu terangnya. Namun, pada tahun 2007 ia mencoba ujian masuk UI, dan sekarang, di sanalah ia menyelesaikan pendidikannya. Tegar sering saya marahi karena parfum AXE Chocolate yang ia gunakan, saya tidak suka baunya. Yaa, Tegar yang akan mendapatkan porsi testimonial paling banyak, karena pengalaman bersama dia yang paling banyak saya rasakan. Thanks, buddy!

Penghuni kamar terakhir adalah, Bang Vari dan Bang Anom.

bang variNama: Muhammad Ghivari
Jabatan: Abang Jakarta Kep. Seribu 2009
Pendidikan terakhir: Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)
Testimonial: Bang Vari, kelakuannya suka lucu, kayak Abnon cilik. Postur tubuhnya yang imut, najis, dan hidungnya yang besar membuat dia terkadang menjadi subjek yang menarik, haha. Vari merupakan seorang mantan penyiar di Mustang FM, ia pernah sekolah di USA, jadi gak heran kalau dia jago bahasa Inggris. Dia juga yang membuat jawaban saya pada malam final menjadi terdengar standard, karena bahasa Inggrisnya yang jauh lebih keren. FYI, Vari mendapatkan pertanyaan yang sama dengan saya pada malam final. Vari adalah saingan yang saya anggap cukup mematikan, ia mempunyai pengetahuan yang luas, dan menyampaikan pemikirannya dengan tajam, tepat sasaran. He’s a very good speaker.

bang anomNama: Anom Adimasetio
Jabatan: Wakil II Abang Jakarta Selatan 2009
Pendidikan terakhir: Fakultas Ekonomi, Dept. Ekonomi dan Studi Pembangunan, Universitas Padjajaran
Testimonial: Bang Anom adalah abang yang paling banyak perkakasnya. Dia punya semuanya, sampai kita suka minta printilan dia, hehe. Anom setia kawan, ia rela berkorban untuk temannya. Dia juga teman satu unit yang perhatian ketika saya sakit. Btw, blog ini pun ada karena requestnya. Haha. Saat ini ia sedang menyelesaikan S-1 nya di UNPAD. Semoga cepat lulus, ya, Nom. Haha. Anak Bandung juga, ni.

Well, ini denah unit kami.

Unit 1709

Unit 1709

Jadi unit ini seperti apartment. Ada dapur lengkap dengan kompor, kulkas, dan kitchen set, ruang tamu dengan sofa set dan TV, 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, dan 1 ruangan yang sampai detik ini saya tidak tau apa fungsinya. Ya, ruangan ini dekat dengan pintu masuk utama. Ukuran ruangannya kecil kurang dari 2×2 meter. Dan sampai sekarang, saya bingung, ruangan ini untuk apa. Mungkin untuk menyimpan koper-koper atau barang pribadi lainnya, atau mungkin untuk menghukum anak nakal. :)

Keliatan, kan, siapa yang paling bahagia hidupnya selama karantina. Kamar paling besar, ada wardrobe pribadi. So, gak heran Bang Vari berhasil mengharumkan unit 1709 di deretan pemenang Harapan I Abang Jakarta 2009. Selamat ya, Var.

Sekarang udah tau, kan, kenapa gue sakit terus 2 minggu karantina? :)

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | September 20, 2009

Selamat Idul Fitri 1430 H

ketupat

Takbir berkumandang.

Hari kemenangan bagi yang telah berhasil melawan segala hawa nafsu selama Bulan Ramadhan telah tiba. Kini saatnya kita menyucikan diri dengan saling memaafkan. Lupakan khilaf orang lain di masa lalu untuk menjadi lebih ikhlas dalam mendapat kenikmatan Illahi. InsyaAllah, di tahun-tahun berikutnya, perjalanan kehidupan kita sebagai umat-Nya akan selalu mendapat keberkahan, lindungan, dan petunjuk yang terbaik. Amin

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin :)

Oleh: Muhammad Cipta Suhada | September 17, 2009

Kejadian di Perjalanan 22 Jam (Lanjutan)

Ok, sebelumnya, saya minta maaf, karena untuk posting-an sebelumnya berjudul 22 Jam Perjalanan Jakarta-Tasikmalaya-Bandung-Jakarta bersama AKBAR belum mencakup semua aspek dari perjalanan itu sendiri.

Hmm, masih banyak request dari teman-teman untuk dimasukkan banyak cerita yang terjadi.

Mengapa tidak saya edit saja tulisan yang sebelumnya? Karena saya pikir, kejadian-kejadian ini pantas mendapat perhatian tersendiri, selain itu, posting-an sebelumnya sudah terasa cukup panjang, bukan? :)

  1. Selama perjalanan, cecunguk-cecunguk yang saya sebutkan, si Padil Defan, Hertio Sikumbang, dan Bang Ade Firman Hakim, tidak berhenti melakukan kekonyolan luar biasa yang alhamdulillah membuat perjalanan kemarin terasa begitu menyenangkan. Celotehan-celotehan yang mereka lakukan membuat seisi mobil tertawa. Ada satu kejadian selama perjalanan yang mereka lakukan. Hmm, here the story begins.. Ketiga sahabat (atau lebih tepatnya majikan + peliharaan? *Just pick who’s the master and the servant) ini dalam per-canda-annya tidak lepas dari ngomong “anj*ng” atau dalam bahasa Jawa kita ketahui sebagai dog (silakan diartikan sendiri, I’m sure you know it). Naah, setelah seperempat perjalanan, keluarlah ide dari Firman, “Buat mereka bertiga, siapapun, yang ngomong ‘anj*ng’ dengan jelas, bukan njing, nying, anying, anj.., atau bagaimanapun, akan ditonjokin oleh 2 orang lainnya.” That’s a quite fair rule, right? Ok, mulailah perbincangan mereka. Dan tidak henti, adaaaa aja yang ngomong kata-kata itu. Hmm, i’m sorry for having no ability to visualize it here. Jadilah mereka saling gebuk-gebukan. Sampai di Markas Anak Garaaz, Bang Doddy mendeklamasikan dirinya untuk bergabung dengan ketiga cunguk ini. Ya, jadilah 4 orang saling gebuk-gebukan tiap kali ada yang melanggar. Lucunya, tiap kali mereka mau kelepasan buat bilang “anj*ng”, pasti ada aja kelakuannya, yang diganti sama subhanallah, atau astagfirullah. Haha. Beneran lucu. Di ujung perjalanan, ada peraturan lagi, kalau astagfirullah dan subhanallah gak boleh dijadiin becandaan, jadilah mereka dapat gebukan tambahan. Tapi, Bang Doddy cuma sempet digebukin sekali. Hahaha. Good for you, guys!

    Casts:

    Padil, Tio, Firman + Doddy

    Padil, Tio, Firman + Doddy

  2. Non Milly sebagai pengganti vokalis Band Garasi memang belum terlalu lama. Jadi, wajar saja kalau di Markas Anak Garaz, belum ada pernak-pernik berhubungan dengan Non Milly. Bisa posternya, foto-foto, ataupun tanda tangan. Berhubung ini pertama kalinya saya punya teman yang “agak artis”, jadi saya agak-agak takjub melihat tingkah-polah para penggemar band ini. Ada yang minta tandatangan di kaosnya, di seragam Anak Garaz, sampai ada yang merelakan hoodie-nya buat ditandatangan. “Gue juga terkaget-kaget karena mereka sangat welcome..” begitu petikan statement Milly di Blackberry Messenger yang saya lakukan dengannya kemarin malam. Well, that’s a life. Enjoy it, Non. ;)

    Casts:

    Milly

    Milly

  3. Amazingly, posting-an saya sebelumnya yang berjudul 22 Jam Perjalanan Jakarta-Tasikmalaya-Bandung-Jakarta bersama AKBAR mendapat apresiasi luar biasa dari Anak Garaz Tasikmalaya. Kemarin salah satu Anak Garaz, bernama Zay, mengirimkan message ini di Facebook pada saya: duch critanya bgus eum,,,mpe2 d print wat d tempel d mading garaz. v syg’y ga da foto2 Anak Garaz Tasikmalaya….. hehehe. -_- by : zay AGATA (Anak Garaz Tasikmalaya). Ya, tulisan saya diprint dan ditempel di mading Garaz. :) Ditunggu ya Zay foto-foto kita bareng AGATA.

    AKBAR with AGATA

    AKBAR with AGATA

  4. Ada cerita lain lagi?

Casts:

Padil, Tio, Firman + Doddy

Padil, Tio, Firman + Doddy

Tulisan Sebelumnya »

Kategori