Aku geram. Kebenaranku terkikis Kebudayaan yang Salah.

Otakku sedang melepuh, bukan karena memikirkan kebenaran ini, melainkan perjalanan pulang-pergi Jakarta-Bandung yang kutempuh dalam periode kurang dari 16 jam, di mana salah satu perjalanannya memakan waktu sampai 5 jam karena kondisi jalan tol yang sedang rusak parah. Aku hanya sempat memejamkan mata 3 jam, setelah sebelumnya menghabiskan minggu di kantor dan malamnya kuliah. Intinya, otakku ini sedang cukup kepanasan. Kelelahan. Begitu juga ragaku.

Bukan itu, bukan kelelahan itu intiku. Keinginanku menyampaikan betapa pemikiran ini mulai menggangguku, bahwa aku ingin ada orang lain yang memahami dan mencoba memahami apa yang akan kukatakan. Kelelahanku tidak menghalangiku menyampaikan hal ini. Sungguh.

Harmoni keseharianku berkembang di suatu tempurung. Tempat baru, untukku. Tempat yang sebelumnya hanya bisa kunilai dari luar. Negatif. Lalu positif. Karena kucoba berpikir positif. Kucoba menaruh pikiran sebaik mungkin karena ini hal berkekuatan besar. Tadinya, kucoba lawan pemikiran negatif, bahwa aku belum pernah menjalaninya, maka aku takkan mengerti. Cobalah dulu.

Sekarang aku mencobanya. Menjalaninya, bahkan menjadi bagian percobaan ini. Perjalanan yang tadinya hanya mampu kunilai dari luar. Aku tumbuh dalam lingkungan yang mampu memberikan kepalaku kebenaran. Anggaplah aku punya cukup nilai kebenaran itu.

Aku jalani sajalah. Banyak “kebudayaan” yang ada di sini. Begitu orang-orang bilang tentang hal ini. Aku juga tahu itu. Begitu aku masuk, aku sempat masih menerus menjaga pikiran ini untuk tetap putih. Untuk menaruh percaya. Meletakkan rasa hormat karena aku masih punya cinta untuk negeri ini. Bukan, tidak udah terlalu banyak berasumsi. Aku tidak menuduh satu tempat, atau tempat lain.

Aku lakukan semampuku karena aku tahu, kebenaran ini untuk kepentingan negara ini. Walaupun lama, semakin lama, logikaku tersentil. Ada sesuatu. Aku tetap bertahan positif. Meskipun kebenaranku membuatku terkikis.

Aku dikorbankan, aku tahu itu. Tapi tak apalah, asalkan negara ini benar. Ini mungkin baktiku untuk negara. Hanya jangan usik apa yang menjadi hakku, akan kucurahkan seluruh tumpah darahku untuk bakti pada negeri. Aku hampir menyerah. Aku hampir kehabisan akal. Ini pasti sebuah jalan.

Dulunya, aku pernah bermimpi untuk mengembangkan “kebudayaan” yang baru. Mungkin, masih ada kesempatan untuk membenarkan yang salah. Walaupun, siapalah aku ini. Tapi, entah kekuatanku tidak sebesar Gatot Kaca, atau Bung Karno, aku hampir terhenti.

Sempat berpikir untuk menjaga kebenaran ini, tapi, semuanya akan hanyut oleh kikisan kebiasaan yang terkadang mengiritasi pendirianku. Aku tinggalkan semua ini dengan doa.

NB: Tulisan ini hanya fiktif belaka. Tidak merujuk pada institusi/organisasi tertentu. 

Senang Bertemu (kembali) Denganmu

Aku sempat berseringai dalam hati, entah kenapa, entah sampai kapan. Kutunjuk dalam-dalam lubang di hati ini, dia mengangguk, dia memang sedang terluka. Aku menunduk pada kenyataan hidup ketika harus menyembuhkan luka ini yang entah sampai kapan bisa terobati. Tunggu, ini bukan sakit hati, ini penyakit hati yang akupun mungkin belum temukan obatnya.

Tahun-tahun yang lalu, aku menemukan definisi tersempurna yang sering kusebut sebagai cinta. Cinta yang terkategori pada sesama manusia. Hal yang tidak mungkin kulakukan, tidak mungkin kuwujudkan, pada tahapnya menjadi terang dan nyata menjadi ungkapan dan bukti definisi atas cinta tersebut. Aku merangkak membuktikan cinta, membuktikan bahwa diri ini adalah manusia yang berkomitmen, ingin membahagiakan cinta yang lain. Bahkan ketika aku terbangun dari tidurku, komitmen ini terasa nyata, terasa tanpa henti menyeruak ke dalam benakku, masuk dan bertahta di tempat yang paling kokoh dalam hatiku.

Aku tumbuh menikmati cinta. Aku sadar aku menjadi kuat dalam cinta. Tidak peduli kenyataan pernah menyerangku, aku tahu aku sedang apa. Ini perjuanganku, jangan kau ganggu. Ketika itu membuatku lemah, aku tahu itu, tapi kubiarkan lemah itu menjadi perjuanganku.

Cintaku menenangkanku, aku biarkan logika ini disirami pelajaran hidup yang aku imani akan menguatkan sisi lain dalam hidupku, nanti. Ini pedoman yang menjadi arahku, bahwa takkan kusesali segala yang terjadi dalam perjuangan cintaku, aku akan menjadi orang yang kuat. Itu ikrarku.

Ada yang bilang aku bodoh, ada yang bilang aku gila, ada yang bilang aku sia-sia. Ya, itu juga definisi cinta untukku. Bodoh, gila, dan sia-sia. Mereka bukan aku, mereka tidak tahu perjuanganku dan imanku terhadap definisi ini. Aku merasa benar, dan ini bukan salahku, bukan juga urusan mereka.

Sampai akhirnya, aku menemukan pelajaran berat untuk tambahan definisi ini. Aku menyerah, sempat menyerah, dan akhirnya menyerah. Sempat aku katakan bahwa aku bukan orang yang mudah menyerah. Tapi aku harus melakukan ini sekarang, dan membiarkan orang menertawakanku. Tak apalah.

Aku sempat terdiam untuk beberapa lama. Mempelajari definisi-definisi yang hampir utuh mengenai cinta. Kubiarkan iman ini mendalami mana yang benar, untuk apa yang telah kubiarkan terjadi. Aku tidak menyesal, bahkan ketika aku tahu semuanya memang sia-sia, dan aku memang bodoh. Aku tahu itu. Aku dapat definisi lain. Kucoba berdiri, di atas imanku, perlahan tapi nyata.

Detik ini, aku menjadi lebih lengkap. Tahun itu aku berjuang sekuat tenaga menemukan definisi cinta. Yang aku kira itu adalah definisi cinta. Namun, setelah definisi itu semakin lengkap, aku menemukan bahwa hal ini bukanlah definisi yang kuharapkan, bukan begini harusnya cinta. Ternyata aku salah, tapi tidak sepenuhnya salah, ini adalah definisi hidup. Dan untuk itu, aku sadar bahwa pencarianku akan makna hidup dan berbagai embel-embelnya tidak akan secepat ini berakhir.

Aku yang arogan, aku yang sok tahu pada diriku sendiri, ternyata sempat salah. Ini juga definisiku tentang hidup.

Tahun ini, kubuka daftar panjang mengenai apa yang harus kucapai. Aku sempat ragu untuk memasukkan cinta di dalamnya lagi. Aku sudah punya rencana yang lebih besar. Biarlah kutunggu sampai kapan definisi yang gagal kutemukan itu menjadi lengkap. Tidak sepenuhnya kosong, tapi aku akan belajar menemukan definisimu bersama dengan kupahami definisi yang lain tentang hidupku, cinta.

Senang kau kembali muncul setelah aku hampir kehabisan asa, dalam bentuk yang lain, dalam definisi yang bertambah banyak, dalam relung yang lebih luas, dalam keyakinan yang lebih dalam.

Tunggu aku, di sana.

#4: Aku Mahasiswa Impianku

Aku mulai pendidikanku di bangku institusi ini. Berkali-kali kuyakinkan diriku, bahwa ini bukan mimpi di siang bolong. Aku memang sudah resmi menjadi mahasiswa, di kampus ini. Sekarang giliranku menghadapi kenyataan-kenyataan yang selama ini belum kupahami. Bagaimana kerasnya menjadi seorang mahasiswa, beratnya tinggal sendiri jauh dari keluarga, susahnya mengatur keuangan yang serba pas-pasan, dan permasalahan hati yang kadang ikut meramaikan hariku. Aku bersyukur masih diberikan kesempatan atas ujian-ujian ini, Tuhan masih sayang padaku. Aku hanya ingin menjadi dewasa dan lebih tegar melalui tiap kisah yang melukis hidupku. Tidak lagi anak ingusan yang hanya bisa meminta tanpa tanggung jawab. Ini tanggung jawabku saat ini, menjadi berhasil di bangku kuliah, dengan nilai yang baik. Hanya itu yang bisa kubawa pulang ke rumah untuk Ayah dan Ibu.

Satu tahun pertama kujalani, kubawa pulang transkrip nilai ke rumah. Aku gagal masuk jurusan impianku, Teknik Perminyakan. Proses ini memang jelas, bahwa aku sedang diarahkan untuk sesuatu yang aku belum pahami betul, Tuhan sedang memperhatikanku. Besarnya impianku terhadap jurusan kuliah ini, ternyata tidak cukup membawa nilaiku untuk mampu membawaku di jajaran persaingan yang sangat ketat. Aku sudah membuat rencana cadangan. Aku memilih ilmu lain, yang masih berhubungan di dunia perminyakan, yang ternyata setelah kujalani, ilmu yang kupelajari ini adalah awal dari proses eksplorasi minyak dan gas bumi.

Pada awalnya aku kecewa, betapa tidak, aku sudah bermimpi bertahun-tahun bisa kuliah di jurusan ini. Namun, ketika aku sudah mulai merasakan ilmu kebumian yang biasa kami sebut geofisika ini, aku menyadari beberapa hal. Pertama, aku tidak terlalu menyukai bidang ilmu teknik perminyakan. Kedua, aku lebih menyukai ilmu geofisika ini. Terakhir, aku tidak sepayah itu mengenai pelajaran fisika. Sejak SMA, aku tidak pernah mampu mengerjakan persoalan fisika yang diberikan guruku di sekolah. Tidak heran, banyak teman-temanku yang menertawakanku, ketika mereka tahu, aku kuliah di jurusan yang berjudul “fisika”.

Aku paham, dua kali aku menginginkan sesuatu yang begitu besar, kampus ini dan jurusan teknik perminyakan, dua kali aku sempat gagal.

Apakah Tuhan sedang mengabaikanku?

Aku selalu percaya bahwa justru Tuhan selalu bersamaku setiap saat. Kegagalan menurutku ini adalah bukti bahwa Tuhan masih memperhatikanku, ya, mungkin ini bukan kegagalan namanya. Aku mengerti satu hal penting. Ketika kita sudah mempunyai rasa ikhlas, benar-benar ikhlas dari dalam hati, ketika itu kita sudah siap dengan segala kemungkinan, ketika itu pula Tuhan akan memberikan keputusannya. Ya, ikhlas memang bukan perkara mudah. Tidak dapat diukur, tidak dapat dituliskan, tidak dapat diutarakan, dan tidak dapat disalahkan.

#3: Institut itu Masa Depan

Aku duduk di kelas tiga SMA. Sejak pertengahan kelas dua, aku sudah bermimpi untuk menjadi insinyur perminyakan. Walaupun berbeda dengan Ayah, tapi aku ingin bisa mewujudkan mimpi ayah di bidang lain. Aku menjadi salah satu siswa dengan kebulatan tekad yang cukup cepat waktu itu, bahkan banyak temanku yang belum mampu menentukan mau ke mana setelah lulus sekolah. Impianku menjadi insinyur perminyakan ini membuatku menjadi jatuh dalam obsesi luar biasa pada salah satu institusi yang memiliki pendidikan teknik perminyakan terbaik di negeri ini. Beberapa jalur penerimaan mahasiswa baru kuniatkan untuk dijalani, demi impianku. Banting tulang aku merancang masa depanku tentang ini. Solat tahajud, tadarus, berdoa sepanjang waktu telah mengisi keseharianku selama setahun penuh menjelang kepastian masa depan.

Kucoba ujian pertama. Aku gagal, hampir berhasil. Aku menangis di depan Ibu untuk pertama kalinya. Sampai sekarang aku tidak berhenti merinding membayangkannya. Ibu berusaha menenangkanku. Aku tahu, meski tidak dengan ungkapan penuh iba, tapi Ibu sangat iba padaku, melihat perjuanganku selama ini. Ibu hanya berkata, “Kan masih ada ujian gelombang berikutnya.” Aku percaya. Aku akan mengikutinya dan berjanji tidak akan mengecewakan diriku lagi. Doaku semakin kuat kupanjatkan, solat malamku semakin tidak pernah kutinggalkan, bahkan di setiap doaku, aku selalu meneteskan air mata, betapa aku ingin Tuhan tahu, bahwa aku ingin impian ini. Aku sadar bahwa setiap manusia akan selalu merengek pada Tuhan ketika tertimpa kesulitan, dan sedikit yang ingat Tuhan ketika sedang bahagia. Bukan itu yang menjadi pikiranku, aku hanya ingin dapatkan impian ini.

Aku menangis, ketika temanku menelpon dan mengabarkan berita kelulusanku pada institusi impianku. Bulu kudukku merinding, persis seperti ketika aku menuliskan tulisan ini. Ya, perasaan haru itu masih melekat tiap aku menceritakan kisah ini. Aku bangga, pada diriku. Bukan karena berhasil mencapai impian banyak orang, tapi bangga pada diriku yang berhasil menempuh satu tahap membahagiakan kedua orang tuaku. Ingin rasanya aku memeluk Ayah dan Ibu, tapi aku tahu bukan seperti ini gaya keluarga kami. Tak apalah, ini tidak akan mengurangi kebahagiaanku. Tidak lagi aku bermimpi, aku sudah masuk dalam impianku, ya, aku ada dalam institut masa depanku.

#2: Ibu dan Ayah

Aku lahir dari sepasang Ibu dan Ayah terbaik di dunia. Di samping aku tidak punya orang tua selain mereka, memang ternyata sosok Ibu dan Ayah adalah yang terbaik dalam hidupku saat ini. Ayahku seorang insinyur kehutanan yang bekerja di perusahaan asing bergerak di bidang penambangan minyak bumi. Awalnya aku tidak melihat korelasi antara latar pendidikan Ayah dengan perusahaan tempatnya bekerja. Tapi, toh, tidak mungkin mereka mempekerjakan Ayahku bila pikiranku benar. Ayah sudah kehilangan sosok ayahnya sejak ia berusia 3 tahun, bahkan sebelum ia dapat mengingat apapun. Ayah –sebagai anak tunggal– dan Nenek –aku memanggilnya Andung– hidup sederhana, kehidupan menjadi pedagang asongan pinggir jalan dan membuka warung kecil dekat tempat tinggalnya sudah pernah Ayah rasakan. Aku sering merasa bangga terhadap ayahku. Dengan kisah masa kecilnya yang tidak lebih beruntung daripada masa kecilku, Ayah dapat memberikan masa kecil yang baik untukku. Ayah adalah orang yang idealis. Prinsipnya tidak akan pernah mampu dipatahkan oleh siapapun, kecuali oleh Andung. Ketika salah dalam berdebat, Ayah mampu membuat lawan bicaranya tidak menyadari kesalahannya, maka, terlihat benar adalah hal yang lebih sering dapat dilihat orang atas Ayah. Aku sempat hidup terpisah beberapa tahun dengan Ayah, karena Ayah harus tetap bekerja di Pulau Sumatera, sedangkan aku sudah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Pulau Jawa. Hidup sendiri membuat Ayah mandiri. Banyak urusan rumah tangga yang mampu ia selesaikan, dengan caranya sendiri. Bahkan, ketika sekarang aku tinggal di Bandung jauh dari keluargaku, aku banyak meniru kemandirian Ayah, dan gayanya dalam memberikan warna pada kehidupan seorang dirinya. Ayah jarang marah. Ia lebih sering berusaha tegas memberikan nasihat dan arahan tentang hidup. Aku tidak pernah berhenti bangga mempunyai ayah seperti Ayah. Memang tidak sempurna, tapi Ayah adalah ayah terbaik yang Tuhan berikan untuk keluargaku, sampai kapanpun.

Ibuku seorang ibu rumah tangga. Aku sering menceritakan kepada orang lain betapa hebatnya ibuku. Lahir dari keluarga tentara membuat ibuku yang mempunyai dua kakak dan satu adik menjadi tangguh. Aku tidak pernah bertemu dengan kakek –aku memanggilnya Opa– karena ia wafat 6 tahun sebelum kelahiranku. Namun, aku dapat membayangkan rasanya menjadi anak seorang tentara dari cerita Ibu, nyata sekali bagiku. Ibu selalu cerita betapa hebatnya Opa, betapa hangatnya keluarga mereka, betapa Ibu dibesarkan dengan ketegasan dan kedisiplinan. Ibu tidak dibesarkan dengan perlakuan khusus karena jenis kelaminnya yang wanita, tidak heran kalau sekarang Ibu juga terkadang menggunakan logika lebih banyak dibandingkan dengan wanita-wanita lain yang sering kujumpai. Aku tahu Ibu punya banyak kesedihan dalam hidupnya. Tapi, tidak pernah sekalipun aku melihat Ibu menangis di depanku atas permasalahan hidupnya. Ntah Ibu memang tidak pernah menangis, atau Ibu selalu berhasil sembunyi dari hadapanku ketika menangis. Ibu bukan orang yang suka mengutarakan pujian. Walau begitu, bukan Ibu tidak punya simpati, ia hanya menyampaikannya dengan cara yang kurang disadari banyak orang. Ibu juga bukan orang yang mudah mengekspresikan perasaannya, kecuali amarah. Ketika bahagia dan bangga, sedikit orang yang paham, namun, ketika emosi memuncak, tidak ada satupun makhluk di atas permukaan bumi yang mampu bertahan untuk mendengar curahan emosi Ibu. Ya, Ibu bisa marah dengan nada yang tinggi dan memekakkan telinga. Aku tidak sedang berkisah buruk tentangnya. Ini adalah kehebatan Ibu, di rumah, ia mempunyai kendali atas hal-hal yang sudah tidak dapat ditoleransi lagi.

Kolaborasi keberadaan Ayah dan Ibu membuat aku hadir di keluargaku setelah empat orang kakakku, tiga saudara wanita dan satu pria. Jarak usia yang tidak terlalu jauh, membuat kami berlima tumbuh menjadi kompak dalam keseharian. Saudara kandungku adalah tim terhebat sepanjang perjalanan hidupku. Menjadi penerus keinginan kedua orangtuaku.

#1: The Starter

Perkenalkan, namaku Soeharto. Aku bukan Presiden ke-2 Indonesia, juga bukan manusia kelahiran 1950, juga bukan ayah dari empat anak, atau suami dari seorang istri, aku adalah mahasiswa tingkat akhir di sebuah institusi cukup ternama di ibukota Jawa Barat. Sederhananya, aku masih terhitung pemuda. Lingkungan pendidikanku memang kental sekali dengan rasa budaya Sunda, tapi ntah mengapa, semua orang harus percaya kalau sudah tahun keempat aku makan batagor Kingsley atau brownies kukus Amanda, aku tidak bisa bicara bahasa Sunda. Ya, sedikit-sedikit aksen Sunda sering terdengar di telingaku, tapi itu tidak membuatku berani berdialog dengan penduduk Sunda di sekitar tempat tinggalku. Aku bukan keturunan Sunda, juga bukan keturunan Jawa, bukan penduduk asli dataran Jawa Barat, ataupun bagian manapun di belahan timur pulau Jawa. Aku baru saja menjejakkan kakiku untuk beberapa waktu yang konsisten di sini, setelah aku menyelesaikan pendidikan SMA di Jakarta. Jadi, memang pengalamanku pada kota ini sebelumnya hanya sebatas pelancong dengan beberapa anggota keluarga, atau teman-teman sekolahku. Oh, ya, aku keturunan Minangkabau, entah mengapa namaku begitu kejawa-jawaan. Alasannya sudah jelas, orang tuaku penggemar presiden ke-2 republik ini.

Cita-cita masa kecilku menjadi pilot, ya, pengendali jalannya kendaraan raksasa yang kita lihat melintas di langit setiap hari. Sejak kecil aku selalu bermimpi bisa bermain-main dengan kendaraan ini, walaupun hanya sebatas melihat sayap atau muncungnya. Aku merasa bahagia ketika melihat bagaimana benda sebesar ini, bisa mengudara tanpa bantuan apapun dari darat. Ketika di dalamnya waktu itu bersama Ibu, aku takjub bagaimana kendaraan ini adalah kendaraan dengan fasilitas dan pelayanan terbaik selama hidupku, kalau aku tega membandingkannya dengan bus kota atau bajaj. Aku bisa mencapai tempat lain tanpa harus merasa mual karena jalanan berlubang atau berlama-lama karena macet. Ya, ini ciptaan Tuhan paling indah. Saat itu memang ternyata aku cinta pesawat terbang dengan begitu fanatiknya. Aku beruntung bisa menemani ibuku dengan rutin setidaknya sebulan sekali selama beberapa tahun naik pesawat terbang. Ketika itu aku masih TK di pulau Sumatera, dan belum punya kewajiban sebesar ini terhadap pendidikanku. Jadi, Ibu tidak segan untuk membawaku serta di perjalanannya ke ibukota negara mengurusi beberapa keperluan. Aku senang melihat langsung toko donat yang saat itu hanya ada di Jakarta, yang selalu ibu bawakan ketika pulang ke rumah. Bayanganku tentang Jakarta, ya, selalu jauh di luar kemampuanku. Kota dengan begitu banyak fasilitas hidup dan permasalahannya. Bukan itu pemikiranku waktu itu, aku masih kecil sekali, tapi aku paham bahwa Jakarta sangat berbeda dengan kota tempat tinggalku.

Kesempatan mendatangi ibukota Jakarta memang menjadi momen menarik di penggalan kisah masa kecilku. Mungkin karena sekolahku yang bukan di kota metropolitan, atau teman-temanku yang lebih sering main ke ibukota provinsi daripada ke ibukota negara. Waktu itu, Ibu mendapatkan tugas dari Ayah untuk mengurusi pembangunan rumah kami di Jakarta. Ayah memang tidak mudah percaya orang, maka Ibu yang menjadi utusannya mengatur kepentingan pembangunan rumah masa tua kami nanti. Tiba-tiba aku teringat, saking isengnya aku, aku pernah membuka kembali rapor pendidikan TK-ku, menghitung hari aku absen datang ke sekolah, dan mendapati angka 104 di total hari absenku selama setahun, hari efektif sekolah. Angka yang besar menurutku, apalagi untuk siswa terbaik kedua pada akhir tahun kelulusan TK. Aku sendiri tertawa memikirkan apa yang sudah aku kerjakan selama di taman kanak-kanak. Mungkin guruku bisa bercerita lebih banyak dibandingkan memoriku yang terbatas ini.

Aku mungkin bukan lulusan terbaik dari taman kanak-kanak tempatku belajar dasar-dasar kehidupan selama dua tahun, namun aku bersyukur masih bisa melanjutkan pendidikan sekolah dasarku. Tidak banyak yang dapat kuceritakan mengenai SD ini. Tidak banyak yang terjadi. Namun, 4 tahun di SD yang tidak jauh dengan ibukota provinsi, dan sisa 2 tahun di SD yang berjarak dua jam dari sekolahku sebelumnya. Aku bertemu beberapa teman-teman baru di waktu yang relatif singkat bagi anak kecil beradaptasi. Pendidikan SMP dan SMA-ku semuanya kuhabiskan di ibukota negara, ceritanya jelas berbeda. Nanti aku ceritakan.

Aku sudah mengubur cita-citaku untuk menjadi seorang pilot, ya, sejak tahun pertama sekolah dasar aku divonis mengalami penyakit rabun jauh. Menjadi pilot, tidak diperbolehkan menggunakan kacamata, setahuku. Sempat kecewa, tapi tidak apa, toh, tidak ada larangan menggunakan kacamata untuk naik pesawat sebagai penumpang.

Aku bukan anak kecil yang gemar bermain sepakbola, atau bola basket. Aku juga tidak suka membaca buku cerita atau menonton kartun. Aku tidak suka membaca komik atau bermain mobil-mobilan. Aku juga tidak lahir di keluarga yang kaya raya ataupun bermobil sepuluh. Masa kecilku bukan masa kecil yang paling sempurna. Tapi bahagia itu ada.

Kutemukan Ia di Sudut Ruang itu (part. 3)

Mulutnya mulai terbuka. Aku berusaha menyaksikan pergerakan itu. Perlahan. Sangat perlahan. Ia mulai berusaha berbicara, tapi, aku belum mendengar apapun. Kutegukkan cangkir teh hangat yang disajikan wanita tadi ke mulutnya, ya, semoga saja kerongkongannya yang kering bisa terbasahkan dengan air teh ini.

Ia meminumnya. Aku sedikit lega.

Perlahan ketika ingin kumulai untuk bertanya pada anak itu, sebenarnya ada apa? Siapakah dirinya? Apa yang terjadi dengannya? Di mana orang tuanya? Begitu banyak tanda tanya dalam diriku, tetapi semuanya kutahan karena tampaknya ia sedang berusaha mengatakan sesuatu.

“Ransel.. Di mana.. Ransel..” Hatiku terguncang. Apa yang dia ingin katakan dengan ransel. Apakah sesuatu terjadi padanya karena ransel, atau.. Ah, tidak! Jangan-jangan ada hal penting mengenai ransel.

Aku bertanya, “Ransel apa?” Hatiku benar-benar tegang. “Ransel.. Ruang gelap.. Di sana.. Mana?” Sempurna. Pasti ransel yang ia maksud tertinggal di ruang tempat aku menemukannya.

Aku kembali menyusuri 2 kilometer lebih perjalananku tadi. Aku terengah-engah. Tidak mau ada hal apapun yang membuatku kehilangan jejak dan akal untuk menemukan siapa anak ini sebenarnya.

Oke, kupercepat langkahku. Aku berlari.

Sampai aku di depan pintu ruang itu. Kubuka, dan dalam gelap aku berusaha mencari. Gatal hidungku, begitu banyak debu dan kotoran yang dengan cepat bisa membuatku sesak napas dan ingin bersin.

Aku mencari. “Ransel.. Ransel..” bisikku dalam hati.

Syukurlah. Aku menemukan ransel itu. Ya, ada di balik pintu tempatku masuk tadi. Aku tidak tahu apa isinya. Yang kutahu, anak tadi memerlukan ransel ini. Kupacu diriku memastikan bahwa tidak ada ransel lain di ruangan ini. Setelah yakin, kulangkahkan kakiku, membawa ransel ini kembali ke rumah dokter, tempat di mana kutinggalkan anak kecil tadi.

Sesampainya di rumah dokter, kulihat sebuah mobil tua terparkir di halaman rumahnya. Aku berharap itu adalah sang dokter.

Ketika kulangkahkan kakiku ke dalam, yang kutemukan hanya seorang dokter dan wanita paruh baya yang tadi menyambutku. Mana anak kecil tadi?

“Bu, mana anak kecil yang saya tinggalkan di sini tadi?” Aku bertanya dan berharap akan adanya jawaban yang menenangkan. “Tadi, ketika kamu tinggalkan rumah ini, saya juga pergi ke dapur, sebentar saja, hanya ingin mematikan kompor. Ketika saya kembali dengan makanan ringan ini, ia sudah tidak ada. Saya tidak tahu ia ke mana.” Aku benar-benar tidak percaya. Ke mana ia? Ah, tidak mungkin!

Kuniatkan langkahku untuk pergi meninggalkan rumah itu. “Terima kasih ibu, dan Pak Dokter. Kalau nanti anak itu kembali tolong segera kabari saya.” Sambil menyerahkan kartu namaku aku pergi.

Tas ransel anak itu pun masih tergantung di pundakku. Ah, kenapa tidak kuperiksa apa isi tas ini. Mungkin ada sesuatu yang bisa membantuku menemukan siapa anak ini sesungguhnya.

Perlahan kuperhatikan tas itu. Lusuh dan kumal. Seperti surat yang diberikan anak itu padaku. Kubuka tas itu, dan kutemukan beberapa barang.

(Bersambung)