Aye Cinte Jakarte

Image

Perjalanan dengan seorang teman, kemarin, sejenak menyadarkanku. Obrolan ringan, yang bermula dari gurauan semata tentang negeri ini, Indonesiaku.

“Ah, udah gak ada harapan deh tinggal di Jakarta!”

Ngarep gak macet di Jakarta? Mimpi kali ye..

Kalo gue udah banyak duit, gue bakalan pindah ke luar negeri!”

Tidak jarang aku mendengar celotehan miris tentang ibukota yang sudah membesarkanku. Juga, tidak jarang aku turut melontarkan betapa kota ini sering membuat kepalaku penat. Sesederhana itu, aku juga suka mengeluh, kok. 

Ada yang punya semangat besar dan mimpi yang mega untuk perbaikan Jakarta di masa depan, ada yang mulai acuh “yang penting gue bisa makan, tidur, hidup tenang”, ada yang bahkan sudah mulai berpikir untuk tidak peduli dan meninggalkan kepenatan ini.

Hidup.

Jakarta, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidupku, setidaknya. Berapa banyak pelajaran yang dulu, waktu kecilku, ingin kupelajari dari kerasnya hidup Jakarta. Aku pernah berpikir untuk pindah ke Jakarta, merasakan kerasnya hidup Jakarta, biar aku “ditempa” menjadi manusia yang siap-bertarung. Sekarang, aku sadar betul bahwa “pelajaran hidup” yang Jakarta sedang coba berikan padaku, bukan sekedar mengenai bertahan hidup.

10,1 juta penduduk Jakarta, belum lagi ditambah dengan jumlah yang sama tiap harinya datang-pergi untuk mengadu nasib di ibukota, dengan luas kota yang hanya 740 km persegi, bahkan lebih luas daripada negara Singapura. Yang kuharap hanya, coba bayangkan, betapa kompleksnya kota Jakarta di waktu siang. Penduduk Singapura, hanya setengah penduduk Jakarta.

Lupakan data itu.

Sesederhana matahari yang tetap akan terbit di timur, tidak ada lagi yang bisa kita perbuat untuk kota ini, selain taat.

Taat pada seluruh peraturan, taat pada norma kemasyarakatan yang berlaku, taat pada hati nurani yang sama-sama menginginkan Jakarta yang lebih baik. Sebentar lagi, 486 tahun umur Jakarta. Moral penduduk yang semakin memburuk, membuat Jakarta semakin kesakitan.

Sesederhana tidak membuang sampah sembarangan, tidak menerobos lampu merah, tidak merusak halte busway, menjadi pengguna jalan yang memiliki hati nurani, sesederhana itu. Jakarta tidak mungkin menuntut lebih.

Yang biasa menjadi benar, yang tidak biasa menjadi salah.

Kita memanggul tanggung jawab untuk masa depan anak cucu kita, biasakanlah berbuat yang benar menurut ketaatan kita.

Cuma kita yang bisa bikin Jakarta lebih nyaman lagi. Gak usah liat orang lain. Mulai dari diri sendiri, yah?

Ah, aye cinte Jakarte.

Satu pemikiran pada “Aye Cinte Jakarte

  1. pandangan yang menarik tentang Jakarta. jujur saja, aku termasuk yang sering ngeluh tentang Jakarta, pdhal bukan Jakartans.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s