Aku geram. Kebenaranku terkikis Kebudayaan yang Salah.

Otakku sedang melepuh, bukan karena memikirkan kebenaran ini, melainkan perjalanan pulang-pergi Jakarta-Bandung yang kutempuh dalam periode kurang dari 16 jam, di mana salah satu perjalanannya memakan waktu sampai 5 jam karena kondisi jalan tol yang sedang rusak parah. Aku hanya sempat memejamkan mata 3 jam, setelah sebelumnya menghabiskan minggu di kantor dan malamnya kuliah. Intinya, otakku ini sedang cukup kepanasan. Kelelahan. Begitu juga ragaku.

Bukan itu, bukan kelelahan itu intiku. Keinginanku menyampaikan betapa pemikiran ini mulai menggangguku, bahwa aku ingin ada orang lain yang memahami dan mencoba memahami apa yang akan kukatakan. Kelelahanku tidak menghalangiku menyampaikan hal ini. Sungguh.

Harmoni keseharianku berkembang di suatu tempurung. Tempat baru, untukku. Tempat yang sebelumnya hanya bisa kunilai dari luar. Negatif. Lalu positif. Karena kucoba berpikir positif. Kucoba menaruh pikiran sebaik mungkin karena ini hal berkekuatan besar. Tadinya, kucoba lawan pemikiran negatif, bahwa aku belum pernah menjalaninya, maka aku takkan mengerti. Cobalah dulu.

Sekarang aku mencobanya. Menjalaninya, bahkan menjadi bagian percobaan ini. Perjalanan yang tadinya hanya mampu kunilai dari luar. Aku tumbuh dalam lingkungan yang mampu memberikan kepalaku kebenaran. Anggaplah aku punya cukup nilai kebenaran itu.

Aku jalani sajalah. Banyak “kebudayaan” yang ada di sini. Begitu orang-orang bilang tentang hal ini. Aku juga tahu itu. Begitu aku masuk, aku sempat masih menerus menjaga pikiran ini untuk tetap putih. Untuk menaruh percaya. Meletakkan rasa hormat karena aku masih punya cinta untuk negeri ini. Bukan, tidak udah terlalu banyak berasumsi. Aku tidak menuduh satu tempat, atau tempat lain.

Aku lakukan semampuku karena aku tahu, kebenaran ini untuk kepentingan negara ini. Walaupun lama, semakin lama, logikaku tersentil. Ada sesuatu. Aku tetap bertahan positif. Meskipun kebenaranku membuatku terkikis.

Aku dikorbankan, aku tahu itu. Tapi tak apalah, asalkan negara ini benar. Ini mungkin baktiku untuk negara. Hanya jangan usik apa yang menjadi hakku, akan kucurahkan seluruh tumpah darahku untuk bakti pada negeri. Aku hampir menyerah. Aku hampir kehabisan akal. Ini pasti sebuah jalan.

Dulunya, aku pernah bermimpi untuk mengembangkan “kebudayaan” yang baru. Mungkin, masih ada kesempatan untuk membenarkan yang salah. Walaupun, siapalah aku ini. Tapi, entah kekuatanku tidak sebesar Gatot Kaca, atau Bung Karno, aku hampir terhenti.

Sempat berpikir untuk menjaga kebenaran ini, tapi, semuanya akan hanyut oleh kikisan kebiasaan yang terkadang mengiritasi pendirianku. Aku tinggalkan semua ini dengan doa.

NB: Tulisan ini hanya fiktif belaka. Tidak merujuk pada institusi/organisasi tertentu. 

2 pemikiran pada “Aku geram. Kebenaranku terkikis Kebudayaan yang Salah.

  1. mantap. saya mengerti perasaan ini pak. Mungkin secara kita sadari, kita berada di satu tempurung itu. salam Jakarta-Bandung-Jakarta 16 Jam (Macet pas keluar Bekasi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s