Usia muda, karir sukses, apalagi?

Usia muda, karir sukses, tinggal di kota megapolitan seperti Jakarta, lingkungan sosial kelas atas, apalagi yang kurang?
Sejenak kita coba alihkan perhatian kita pada hal yang tidak lagi asing di negeri ini, Pasar Properti. Pernah berpikir untuk mempunyai investasi di masa depan? Ketika anak cucu tumbuh berkembang, kekhawatiran merajalela akan ketidakpastian masa depan mereka? Tentunya segala bentuk persiapan baik untuk diri sendiri maupun untuk keturunan akan menjadi salah satu bahan pemikiran bagi setiap manusia dewasa yang memikirkan kehidupannya. Saya pernah mencoba berinvestasi, tidak besar, sekedar membeli beberapa gram emas, dan akhirnya saya rasa saya gagal. Bukan emasnya hilang, namun memang tiba-tiba saya perlu menguangkan emas yang sudah saya investasikan. Harganya? Tidak naik sejak 2 tahun lalu saya membelinya.
Pernah terpikir mempunyai rumah atau apartemen di usia muda?
Saya selalu memimpikan itu. Harga miliaran? Pernah terpikir bagaimana banyak orang di Jakarta mampu membeli sekian banyaknya properti atas nama mereka dan anak cucu mereka?
  1. Adanya kesadaran bahwa investasi properti merupakan salah satu pilihan yang kerugiannya hampir mendekati nol, apabila dipertimbangkan dengan tepat.
  2. Kesadaran tersebut akan membimbing keinginan kita untuk dengan sadar menyisihkan sebagian penghasilan kita mencapai nilai tertentu yang diperlukan untuk memulai investasi kita.
  3. Keputusan kreatif melihat perkembangan pasar properti di Indonesia dan mulai melirik kemungkinan adanya kesempatan di luar negeri untuk menghindari stagnasi di tingkat tertentu.
  4. Berani mengambil risiko dan putuskan segera, sekarang juga.
Berikut gambaran beberapa masyarakat Malaysia, Indonesia, Hong Kong, dan Singapura terhadap Pasar Properti.

Artikel penuh di situs jual rumah di Indonesia, Rumah123.com.

Iklan

Rumahku Bukanlah Rumahku

Hidup yang menyuarakan kedamaian. Ketenangan akan berlindung dari berbagai bentuk ketidaknyamanan dan usaha untuk memenuhi banyak kebutuhan dalam ratusan wujud. Sebuah sistem yang kadang kita sebut sebagai keluarga, biasanya bernaung pada suatu bangunan yang sama, ya, ketika belum datang masanya tiap anggota keluarga saling terpisah, berlindung pada satu tumpuan bangunan yang sama, boleh disebut sebuah rumah.

Kehangatan dan ketenangan yang diberikan sebuah rumah, maksudnya, diberikan oleh interaksi antaranggota penghuni rumah, akan menentukan bagaimana rumah dapat menjadi magnet bagi para penghuninya. Seberapa besar keinginan anak, ayah, dan ibu untuk kembali ke rumah, mengatur dan membuat sebuah rumah menjadi indah dan nyaman, seberapa besar keinginan penghuninya untuk mempertahankan kehangatan sebuah rumah. Sepertinya hal yang sederhana. Tapi, bagi beberapa keluarga, kehangatan sebuah tempat tinggal seringkali menjadi topik hangat.

Tidak sedikit rumah mewah di Jakarta hanya dihuni oleh beberapa asisten rumah tangga, sementara Sang Ayah dan Sang Ibu sibuk bekerja di hiruk pikuk Jakarta, anak-anak kuliah di luar negeri. Hangat? Belum tentu untuk keluarga tersebut. Atau rumah di kawasan Menteng yang mentereng dihuni oleh keluarga yang setiap hari harus bertengkar mempermasalahkan komitmen rumah tangga yang dirundung kemelut, sedangkan anak-anak berusaha mencari ketenangan dan kehangatan di luar rumah.

Bangunan berukuran 3×3 yang dihuni oleh 3 orang, atau mungkin tidak dapat disebut bangunan karena hanya bersekat jerami, atap terkadang bocor, lantai terkadang basah, angin terkadang berhembus masuk, juga disebut rumah oleh keluarga tertentu. Bahkan mungkin kehangatan mereka rasakan pada bangunan yang bagi beberapa orang tidak layak disebut rumah. Tapi, itulah rumah mereka. Tempat mereka menemukan suka dan cita ketika kesedihan melanda, satu-satunya tujuan akhir hari untuk beristirahat ketika kelelahan mendera, tempat bertukar cerita kejadian sehari-hari, juga tempat bertemu ayah dan ibu.

Berbagai kejadian mendewasakan penghuni rumah sehingga membentuk berbagai kepribadian yang mengarahkan kebiasaan yang bermacam-macam. Tidaklah perlu diuraikan kejadian apa saja yang mungkin membentuk kepribadian. Bahwa seluruh kejadian tentu menyimpan makna, hendak dimaknai sekarang, atau 5 tahun lagi, silakan pilih. Pada dasarnya, kehidupan dalam rumah juga turut menyumbang pembentukan kepribadian seseorang. Rumah yang dihuni oleh penghuni yang seringkali bertengkar, tentu akan membuat penghuni lainnya merasa tidak nyaman, dan sangatlah dewasa apabila akhirnya mencoba untuk menemukan ketenangan di luar rumah, karena itulah pertahanan hidup seorang manusia. Atau rumah yang diisi oleh ketidakjujuran, akan membuat seisi rumah ikut menjadi tidak jujur, atau mungkin mencoba menemukan kejujuran di luar rumah, jika memang cukup dewasa.

Pernah terbayangkan membangun sebuah rumah yang tidak memberikan kehangatan?

Tidak hanya seorang anak atau seorang ayah yang menjadi terganggu. Sistem yang kita sebut sebagai keluarga akan menjadi dipertanyakan. Seorang anak akan tumbuh kembang menjadi pribadi yang selalu berusaha menemukan kebahagiaan di luar rumah, seorang ayah yang justru memilih makan di restoran daripada makanan ibu, seorang ibu yang sibuk menyibukkan diri berbelanja berbagai barang di luar rumah untuk menghabiskan waktu ketimbang di rumah, dalam cara yang baik ataupun kurang baik.

Tidak ada yang patut disalahkan akibat karakter individu yang berkembang seiring dengan budaya yang terbentuk akibat keseharian dalam rumah. Ada atau tidaknya perbaikan untuk membangun keseluruhan sistem dalam rumah untuk menjadi lebih baiklah yang membuat rumah terasa sebagai rumah.

Di luar itu semua, silakan kita coba untuk mensyukuri pilihan rumah mana yang sekarang sedang kita huni, karena itulah kehendak Tuhan sementara waktu ini.

Stay positive, while your house is not your home. You’ll find it someday.