Cin…………… ta.

Image

Ah! Mungkin banyak yang bosan mendengar kisah cinta. Tapi, tidak pernah bosan bahwa tanpa cinta, yang ada hanyalah perang di muka bumi ini. Cinta tidak pernah terdefinisi dengan mutlak, mungkin Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Oxford Dictionaries tidak sepenuhnya mendefiniskan kata sakral itu dengan baik. 

Aku kembalikan padamu. Yang mengerti betul definisi itu.

Naik turunnya perbuatan dan kejadian cinta yang dialami oleh segelintir perasaan, membuat pikiran ini ingin sekali menuliskan beberapa poin sederhana yang mungkin mampu menyelamatkan hari-hari dalam bercinta.

Pertama,

Bahwa cinta itu saling mengisi. Mengisi kekurangan, mengisi kelebihan. Kesepahaman, bahwa satu tujuan yang ingin dicapai dengan rasa yang sama.

Kedua,

Bahwa cinta itu tidak mengikat. Pernikahan adalah salah satu bentuk ikatan atas dasar perasaan cinta. Dalam hukum negara dan agama, dua insan yang saling mengikat cinta mereka tak ayal akan saling terikat. Namun, perasaan yang ada dalam hati masing-masing pecinta? Biarkanlah bebas. Komitmen adalah apa yang membuat kita bertahan, yang menjadi alasan kita untuk kembali memperjuangkan perasaan yang mulai luntur, nilai-nilai kenangan yang mungkin belum ingin dilepas. 

Ketiga,

Bahwa cinta itu saling percaya. Kamu percaya aku, aku percaya kamu.

Keempat,

Bahwa cinta itu tidak harus memiliki. Banyak yang mengatakan bullsh*t dengan cinta tak harus memiliki. Saya juga pernah berkata demikian. Apakah kalian memiliki Tuhan? Tidak secara nyata. Hanya nafsu yang membuat kita memaksa untuk saling memiliki. Keadaan yang tidak memungkinkan untuk saling memiliki, terimalah. Bahwa, mungkin takdir cinta berkata lain, bahwa ikhlas, untuk mencinta dalam bentuk lainnya. Ikhlas. Pahami, dan biarkan cinta itu bebas.

Kelima,

Bahwa cinta itu tidak berharap. Ketika kita biarkan cinta itu ikhlas, menguasai pikiran nafsu, cinta itu tidak berharap. Tidak memaksa, tidak mengecewakan, tidak menyedihkan, tidak bergantung. Menjadi dewasa untuk cinta, dan biarkan hati ini bercinta.

 

Tulisan ini hanya untukmu yang ingin mengerti. 

 

 

Iklan

Senang Bertemu (kembali) Denganmu

Aku sempat berseringai dalam hati, entah kenapa, entah sampai kapan. Kutunjuk dalam-dalam lubang di hati ini, dia mengangguk, dia memang sedang terluka. Aku menunduk pada kenyataan hidup ketika harus menyembuhkan luka ini yang entah sampai kapan bisa terobati. Tunggu, ini bukan sakit hati, ini penyakit hati yang akupun mungkin belum temukan obatnya.

Tahun-tahun yang lalu, aku menemukan definisi tersempurna yang sering kusebut sebagai cinta. Cinta yang terkategori pada sesama manusia. Hal yang tidak mungkin kulakukan, tidak mungkin kuwujudkan, pada tahapnya menjadi terang dan nyata menjadi ungkapan dan bukti definisi atas cinta tersebut. Aku merangkak membuktikan cinta, membuktikan bahwa diri ini adalah manusia yang berkomitmen, ingin membahagiakan cinta yang lain. Bahkan ketika aku terbangun dari tidurku, komitmen ini terasa nyata, terasa tanpa henti menyeruak ke dalam benakku, masuk dan bertahta di tempat yang paling kokoh dalam hatiku.

Aku tumbuh menikmati cinta. Aku sadar aku menjadi kuat dalam cinta. Tidak peduli kenyataan pernah menyerangku, aku tahu aku sedang apa. Ini perjuanganku, jangan kau ganggu. Ketika itu membuatku lemah, aku tahu itu, tapi kubiarkan lemah itu menjadi perjuanganku.

Cintaku menenangkanku, aku biarkan logika ini disirami pelajaran hidup yang aku imani akan menguatkan sisi lain dalam hidupku, nanti. Ini pedoman yang menjadi arahku, bahwa takkan kusesali segala yang terjadi dalam perjuangan cintaku, aku akan menjadi orang yang kuat. Itu ikrarku.

Ada yang bilang aku bodoh, ada yang bilang aku gila, ada yang bilang aku sia-sia. Ya, itu juga definisi cinta untukku. Bodoh, gila, dan sia-sia. Mereka bukan aku, mereka tidak tahu perjuanganku dan imanku terhadap definisi ini. Aku merasa benar, dan ini bukan salahku, bukan juga urusan mereka.

Sampai akhirnya, aku menemukan pelajaran berat untuk tambahan definisi ini. Aku menyerah, sempat menyerah, dan akhirnya menyerah. Sempat aku katakan bahwa aku bukan orang yang mudah menyerah. Tapi aku harus melakukan ini sekarang, dan membiarkan orang menertawakanku. Tak apalah.

Aku sempat terdiam untuk beberapa lama. Mempelajari definisi-definisi yang hampir utuh mengenai cinta. Kubiarkan iman ini mendalami mana yang benar, untuk apa yang telah kubiarkan terjadi. Aku tidak menyesal, bahkan ketika aku tahu semuanya memang sia-sia, dan aku memang bodoh. Aku tahu itu. Aku dapat definisi lain. Kucoba berdiri, di atas imanku, perlahan tapi nyata.

Detik ini, aku menjadi lebih lengkap. Tahun itu aku berjuang sekuat tenaga menemukan definisi cinta. Yang aku kira itu adalah definisi cinta. Namun, setelah definisi itu semakin lengkap, aku menemukan bahwa hal ini bukanlah definisi yang kuharapkan, bukan begini harusnya cinta. Ternyata aku salah, tapi tidak sepenuhnya salah, ini adalah definisi hidup. Dan untuk itu, aku sadar bahwa pencarianku akan makna hidup dan berbagai embel-embelnya tidak akan secepat ini berakhir.

Aku yang arogan, aku yang sok tahu pada diriku sendiri, ternyata sempat salah. Ini juga definisiku tentang hidup.

Tahun ini, kubuka daftar panjang mengenai apa yang harus kucapai. Aku sempat ragu untuk memasukkan cinta di dalamnya lagi. Aku sudah punya rencana yang lebih besar. Biarlah kutunggu sampai kapan definisi yang gagal kutemukan itu menjadi lengkap. Tidak sepenuhnya kosong, tapi aku akan belajar menemukan definisimu bersama dengan kupahami definisi yang lain tentang hidupku, cinta.

Senang kau kembali muncul setelah aku hampir kehabisan asa, dalam bentuk yang lain, dalam definisi yang bertambah banyak, dalam relung yang lebih luas, dalam keyakinan yang lebih dalam.

Tunggu aku, di sana.

Pertanda Ini

Ketika semua terasa begitu indah, aku mulai berpikir.
Pertanda ini, siapa yang buat.
Ketika semua gundah berganti menjadi suka, aku mulai berpikir.
Pertanda ini, mungkin aku suka.
Ketika semua pertemuan menjadi bermakna, aku mulai berpikir.
Pertanda ini, silakan menduga.
Ketika semua tangis menjadi tawa, aku mulai berpikir.
Pertanda ini, mungkin untukmu.
Ketika semua rasa menjadi sama, aku mulai berpikir.
Pertanda ini, ada sesuatu.
Ketika semua halangan menjadi rindu, aku mulai berpikir.
Pertanda ini, aku jatuh cinta.

Aku bersalah. Aku manusia. Aku akui.

Pernah, ada yang merasa kalau hidup ini penuh dinamika? Semuanya saling bertemu di satu titik yang bercabang ke arah tak berujung. Berujung sedih, bahagia, benci, kecewa, tawa, penyesalan, bangga, dan sebagainya. Siapa yang tidak pernah berbuat khilaf? Memang kodrat, dan kehendak Tuhan yang menginginkan manusia berbuat salah. Bukan hanya usaha untuk meramaikan neraka kelak, bagi yang percaya, melainkan untuk membuat manusia tahu mana yang benar. Hingga benar dan salah menjadi nyata, jelas bedanya.

Ketika kita mencapai ujung kebahagiaan, mungkin tidak banyak yang terpikir bagaimana proses menuju titik bahagia itu tercapai. Mungkin lebih banyak memori otak digunakan untuk memamerkan bagaimana kita bisa meraih bahagia, atau relung hati yang menanti bagaimana hal tersebut dikaji orang lain, hingga puji-pujian terlontar untuk diri sendiri. Manusiawi. Tidak apa-apa.

Siapa yang sanggup hidup sendiri? Semua yang hidup berdampingan, siapa yang tidak punya emosi dan kepentingan? Saya sendiri akui, saya penuh emosi dan beberapa kepentingan. Pernah menyakiti orang lain? Lahir dan batin. Saya akui pernah. Saya menyesal? Tentu terbersit.

Lalu apa?

Saya sadar ketika kesalahan menjelma dalam hidup dan merajai keseharian saya, membelenggu kebebasan rasa tidak bersalah, saya menjadi lemah. Singgungan yang saya yakin telah membuat hati orang lain terluka, perbuatan yang tanpa sengaja menguak kepedihan pada lawan bicara, atau penolakan lainnya, adalah bentuk bahwa memang sebagai insan, kita memiliki emosi dan kepentingan.

Lalu bagaimana?

Perlukah kita hidup tanpa emosi? Tidak begitu. Bukankah Tuhan Sang Maha Pencipta yang menciptakan segala atribut perasaan sehingga manusia kelak menjadi belajar? Tuhan tidak tidur, dan membiarkan segala bentuk kemaksiatan terjadi tanpa alasan.

Lalu kapan?

Ketika kita menyadari berbagai pelajaran hidup yang terjadi, ketika terjadi pada diri sendiri, atau ketika kita cukup cerdas untuk mencerna kejadian dari orang lain, dan ketika menjadi benar paham. Paham bahwa memang segala yang terjadi dengan alasan, dengan konsekuensi, dengan solusi.Pada waktu itu, waktu yang tepat. Jangan tergesa-gesa, jangan memaksa, jangan aniaya diri sendiri. Bersabarlah, sampai memang kita punya cukup tabungan untuk menyadari bahwa itulah hidup.

Lalu siapa?

Kita. Aku, kamu, dan seluruh penghuni planet bumi. Hidup berdampingan, tidak sendiri, kecuali hidup di gurun, atau kutub. Tetangga yang menyebalkan? Bos yang tak berhenti memberikan setumpuk pekerjaan? Supir taksi yang terus berusaha menunjukkan jalan yang melipatgandakan meteran? Pramugari cantik yang terkadang tidak ramah? Para ilmuwan yang merasa penelitian mereka tidak terbantahkan? Masinis yang kadang enggan untuk menoleh ke belakang? Semuanya. Semua, termasuk saya, dan kamu.

Lalu mengapa?

Inilah hidup.

Bahwa esok hari akan tetap tiba, bahwa kematian akan segera menjemput, bahwa kehidupan akan terus bergulir. Kesalahan yang kita buat, akan menjadikan kita kuat. Menjadikan kita tersadar, menjadikan kita terpelajar. Mahasiswa kehidupan. Akuilah kesalahan apapun yang kita lakukan dengan ksatria. Jujur, menjadikan hidup yang berdampingan tenang, dalam terang. Aku pernah bersalah, aku yakin kamu pun begitu. Aku malu mengakuinya? Tentu tidak, kalau iya, aku akan berhenti bersuara.

Sudahlah, aku hanya ingin hidup dengan bahagia. Hidup yang hanya sekali, hidup penuh maaf, hidup dengan jujur, hidup dengan manfaat.

Kamu?

 

Rumahku Bukanlah Rumahku

Hidup yang menyuarakan kedamaian. Ketenangan akan berlindung dari berbagai bentuk ketidaknyamanan dan usaha untuk memenuhi banyak kebutuhan dalam ratusan wujud. Sebuah sistem yang kadang kita sebut sebagai keluarga, biasanya bernaung pada suatu bangunan yang sama, ya, ketika belum datang masanya tiap anggota keluarga saling terpisah, berlindung pada satu tumpuan bangunan yang sama, boleh disebut sebuah rumah.

Kehangatan dan ketenangan yang diberikan sebuah rumah, maksudnya, diberikan oleh interaksi antaranggota penghuni rumah, akan menentukan bagaimana rumah dapat menjadi magnet bagi para penghuninya. Seberapa besar keinginan anak, ayah, dan ibu untuk kembali ke rumah, mengatur dan membuat sebuah rumah menjadi indah dan nyaman, seberapa besar keinginan penghuninya untuk mempertahankan kehangatan sebuah rumah. Sepertinya hal yang sederhana. Tapi, bagi beberapa keluarga, kehangatan sebuah tempat tinggal seringkali menjadi topik hangat.

Tidak sedikit rumah mewah di Jakarta hanya dihuni oleh beberapa asisten rumah tangga, sementara Sang Ayah dan Sang Ibu sibuk bekerja di hiruk pikuk Jakarta, anak-anak kuliah di luar negeri. Hangat? Belum tentu untuk keluarga tersebut. Atau rumah di kawasan Menteng yang mentereng dihuni oleh keluarga yang setiap hari harus bertengkar mempermasalahkan komitmen rumah tangga yang dirundung kemelut, sedangkan anak-anak berusaha mencari ketenangan dan kehangatan di luar rumah.

Bangunan berukuran 3×3 yang dihuni oleh 3 orang, atau mungkin tidak dapat disebut bangunan karena hanya bersekat jerami, atap terkadang bocor, lantai terkadang basah, angin terkadang berhembus masuk, juga disebut rumah oleh keluarga tertentu. Bahkan mungkin kehangatan mereka rasakan pada bangunan yang bagi beberapa orang tidak layak disebut rumah. Tapi, itulah rumah mereka. Tempat mereka menemukan suka dan cita ketika kesedihan melanda, satu-satunya tujuan akhir hari untuk beristirahat ketika kelelahan mendera, tempat bertukar cerita kejadian sehari-hari, juga tempat bertemu ayah dan ibu.

Berbagai kejadian mendewasakan penghuni rumah sehingga membentuk berbagai kepribadian yang mengarahkan kebiasaan yang bermacam-macam. Tidaklah perlu diuraikan kejadian apa saja yang mungkin membentuk kepribadian. Bahwa seluruh kejadian tentu menyimpan makna, hendak dimaknai sekarang, atau 5 tahun lagi, silakan pilih. Pada dasarnya, kehidupan dalam rumah juga turut menyumbang pembentukan kepribadian seseorang. Rumah yang dihuni oleh penghuni yang seringkali bertengkar, tentu akan membuat penghuni lainnya merasa tidak nyaman, dan sangatlah dewasa apabila akhirnya mencoba untuk menemukan ketenangan di luar rumah, karena itulah pertahanan hidup seorang manusia. Atau rumah yang diisi oleh ketidakjujuran, akan membuat seisi rumah ikut menjadi tidak jujur, atau mungkin mencoba menemukan kejujuran di luar rumah, jika memang cukup dewasa.

Pernah terbayangkan membangun sebuah rumah yang tidak memberikan kehangatan?

Tidak hanya seorang anak atau seorang ayah yang menjadi terganggu. Sistem yang kita sebut sebagai keluarga akan menjadi dipertanyakan. Seorang anak akan tumbuh kembang menjadi pribadi yang selalu berusaha menemukan kebahagiaan di luar rumah, seorang ayah yang justru memilih makan di restoran daripada makanan ibu, seorang ibu yang sibuk menyibukkan diri berbelanja berbagai barang di luar rumah untuk menghabiskan waktu ketimbang di rumah, dalam cara yang baik ataupun kurang baik.

Tidak ada yang patut disalahkan akibat karakter individu yang berkembang seiring dengan budaya yang terbentuk akibat keseharian dalam rumah. Ada atau tidaknya perbaikan untuk membangun keseluruhan sistem dalam rumah untuk menjadi lebih baiklah yang membuat rumah terasa sebagai rumah.

Di luar itu semua, silakan kita coba untuk mensyukuri pilihan rumah mana yang sekarang sedang kita huni, karena itulah kehendak Tuhan sementara waktu ini.

Stay positive, while your house is not your home. You’ll find it someday. 

Kedai Kopi. Kopi. Santai.

Courtesy from intelligentrunning.com

 

Berapa banyak kedai kopi yang bisa kita temukan di Jakarta? Ya, sebutlah tiap jarak beberapa ratus meter, atau mungkin di setiap mal yang jumlahnya puluhan, di banyak gedung kantor, atau mungkin warung-warung kecil pinggir jalan, berjualan kopi.

Dari kopi yang harganya Rp2000 per gelas, sampai yang harganya mencapai ratusan ribu pergelasnya, ya, sebut saja kopi termahal di dunia kebanggaan Indonesia, kopi Luwak. Dalam seruput demi seruput kehangatan yang ditawarkan kopi, dalam tiap rupiah yang kita telan untuk menuai sensasi biji kopi yang sudah melalui proses pengolahan panjang.

Mereka yang menggilai kopi, justru paham betul mana yang kopi betulan, mana yang mungkin kopi oplosan. *ada gak, ya, kopi oplosan* Jangan coba-coba menipu mereka yang paham betul aroma kopi Arabika, atau kopi Robusta, apalagi menipu mereka yang menggilai kopi dengan harga yang mahal. Tapi, tidak sedikit mereka yang rela hanya memenuhi gengsi untuk bersosialisasi melalui kopi. Ya, kopi juga merupakan salah satu bentuk sosialisasi, sama halnya seperti rokok, wine, atau fine dining. Sebut saja St*rb*cks. Anak Jakarta mana yang belum pernah nongkrong di kedai kopi itu? Ya, setidaknya mereka pernah mencicipi seteguk saja kopi olahan waralaba asal Seattle, Washington tersebut.

Fakta-fakta unik, penting, dan menarik tentang biji kopi, khasiat meneguk kopi secara rutin, efek samping kebanyakan minum kopi, juga tersaji dengan jumlah yang banyak di dunia maya, silakan googling. Bahkan, kopi juga disebut-sebut sebagai World’s Most Important Beverage

Saking merajalelanya kopi di dunia, tidak sedikit mereka yang percaya bahwa kopi dekat dengan kenyamanan, sehingga para pengusaha tidak takut untuk bertarung menciptakan kedai kopi dengan kenyamanan sekelas restoran. Tidak sungkan bagi mereka yang senang dengan tata letak suatu kopi, rela menghabiskan selembar uang seratus ribuan tiap kali datang. Bahkan, persinggahan di kedai kopi sudah menjadi gengsi tersendiri di beberapa kalangan. Banyak dari mereka yang memang senang minum kopi, namun tidak sedikit dari mereka yang terpaksa duduk di kedai kopi karena harus menemani temannya menghabiskan puntung rokok dan secangkir kopi.

Sayapun sering menghabiskan waktu di kedai kopi. Menyelesaikan tugas akhir yang njelimet (dulu), numpang wifi gratis, atau mungkin hanya sekedar ingin minum kopi menahan kantuk.

Santai, menghabiskan waktu, bertemu orang lain, ngobrol, meeting, keseruan yang mungkin dilakukan sambil duduk di kedai kopi. Indonesia sebagai negara yang memiliki kopi (yang menurut banyak orang adalah kopi terbaik di dunia) patut berbangga bagaimana kopi lokal dapat berprestasi di dunia internasional. Mungkin buat yang gak terlalu suka minum kopi, bisa coba menanam kopi, membuat lapangan pekerjaan. Atau mungkin mencoba menjadi pedagang biji kopi, atau barista di kedai kopi. Memahami, dan kemudian bersantai bersama kopi.

Have a nice Monday’s coffee!

 

 

Another “Real Stages” of Life

October 20, 2012 – My Graduation Day.

Sure you guys know exactly what you do now in daily. What to achieve, what to pursue, what to handle, what to fight for, what to believe, what to be responsible, what to keep our faith with, what to do.

I’ve just completed my 4-year education as an Geophysical Engineer, and graduated as bachelor. This is my new responsibility. When the university asked my vow to be committed as Indonesian Bachelor, I do my vow. To be fully meritorious Sarjana (bachelor’s degree in Indonesia) for the nation. Hopefully.

When I entered my university 4 years ago, it’s like a super new stage of life, which require another huge struggle and high-maintained mentality to deal with those experiences. I felt like a super tough person, that time. Struggled to finish my degree by a super complicated thesis defense, my friend would be admit it–ask them, and felt like I am the super duper brilliant individual, as well. Now, I am a graduate. Jobless. I should recharge my faith about it. And I am on it.

You should understand how it feel being unemployed. The spirit would come up and down while your soul keep convincing yourself which job is the better. Which type, which way, which salary, which city, which company, which industry should you worth to fight, considering things around your life. No supplementary funds to support your daily life since you are no longer under your parents’ full-responsibility, none. You should survive your life, as you are.

And, this is my now.

The point is, never give up on something you believe as your future, your another way of enjoying this harsh life, your dream. Whoever in this stage right now, don’t worry, I’m with you guys. Keep our spirit up!

NB: For everyone who finally touched and feel blessed to give me a job, just contact me. Seriously. ;p