Krisis 1/4

Senang rasanya mengetahui banyak pelajaran datang dan pergi dalam beberapa tahun belakangan. Lulus sarjana di usia 22, saat ini 3 tahun telah dilewati. Sesederhana pergulatan ingin bekerja di mana, ego yang tinggi untuk memiliki gaji yang tinggi, gengsi yang besar untuk tetap bisa nongkrong di kafe kesayangan, dan berbagai seluk-beluk keinginan pascakelulusan. Benar, bahwa terpikir menjadi kaya raya dan hidup bahagia itu adalah indah, namun, tidak terpikirkan jalan menuju impian yang memang belum dirasakan.

Benturan hidup biasanya menjadikan kita lebih realistis. Ketika ekspektasi tidak sejalan dengan apa yang direncanakan, resiliency sebagai individu yang tidak mungkin bergantung pada apa pun menjadi dipertaruhkan. Kelola ekspektasimu.

Tak pernah kubayangkan, bahwa 3 tahun berlalu begitu cepat, dan berentetan perubahan hidup terjadi. Fase yang sangat cepat. Yang tadinya hanya memikirkan diri sendiri, mulai memikirkan keluarga (minimal orang tua). Yang sudah memutuskan untuk menikah, mulai memikirkan anak-istri, bayar listrik, tagihan telepon, cicilan sepeda motor, dan seterusnya. Tekanan keluarga dan sanak saudara mempertanyakan “Kapan nikah?”. Geliat dan drama karir yang mulai mengganggu kehidupan sosial, satu persatu teman nongkrong mulai lebih fokus pada kehidupan rumah tangga, pulang kantor langsung ke rumah, undangan resepsi pernikahan menghampiri setiap minggu. Siapa yang menyangka?

Kodrat yang sudah dikisahkan berjuta-juta tahun yang lalu, pun tidak pertama kali didengar, ternyata tidak berhasil menjadi pemahaman yang dapat diterapkan. Kita tahu, tetapi lalai. Dan itulah hidup.

Well, istilah quarter-life crisis tidak sepenuhnya ada di usia 25. Bahkan sering muncul di akhir usia 20-an.

Saya, secara pribadi, belum menemukan formula lengkap untuk mengatasi krisis ini. Namun, ketahuilah bahwa sepertinya yang kita rasakan ini bukanlah krisis, melainkan masa transisi. Banyak yang tidak menyukai perubahan, terlebih keluar dari zona nyaman.

Buatlah daftar ekspektasimu yang pernah tidak tercapai, dan bunuhlah.

Kelola ekspektasi adalah satu kunci untuk tetap pada jalurnya. Cara memandang hidup, tidak sesederhana mempunyai gaji besar. Mungkin lebih pada pekerjaan yang menyenangkan. Tidak sesederhana nongkrong di kafe, tetapi lebih pada membuat kafe sendiri.

Kekecawaan adalah yang membuatmu kuat, kesedihan adalah yang membuatmu akhirnya bertahan.

Jadikan diri ini kuat dan siap menghadapi masa-masa seperempat-an dalam hidup, pastikan tiap langkah bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Jadilah bangga pada dirimu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s