Aku bersalah. Aku manusia. Aku akui.

Pernah, ada yang merasa kalau hidup ini penuh dinamika? Semuanya saling bertemu di satu titik yang bercabang ke arah tak berujung. Berujung sedih, bahagia, benci, kecewa, tawa, penyesalan, bangga, dan sebagainya. Siapa yang tidak pernah berbuat khilaf? Memang kodrat, dan kehendak Tuhan yang menginginkan manusia berbuat salah. Bukan hanya usaha untuk meramaikan neraka kelak, bagi yang percaya, melainkan untuk membuat manusia tahu mana yang benar. Hingga benar dan salah menjadi nyata, jelas bedanya.

Ketika kita mencapai ujung kebahagiaan, mungkin tidak banyak yang terpikir bagaimana proses menuju titik bahagia itu tercapai. Mungkin lebih banyak memori otak digunakan untuk memamerkan bagaimana kita bisa meraih bahagia, atau relung hati yang menanti bagaimana hal tersebut dikaji orang lain, hingga puji-pujian terlontar untuk diri sendiri. Manusiawi. Tidak apa-apa.

Siapa yang sanggup hidup sendiri? Semua yang hidup berdampingan, siapa yang tidak punya emosi dan kepentingan? Saya sendiri akui, saya penuh emosi dan beberapa kepentingan. Pernah menyakiti orang lain? Lahir dan batin. Saya akui pernah. Saya menyesal? Tentu terbersit.

Lalu apa?

Saya sadar ketika kesalahan menjelma dalam hidup dan merajai keseharian saya, membelenggu kebebasan rasa tidak bersalah, saya menjadi lemah. Singgungan yang saya yakin telah membuat hati orang lain terluka, perbuatan yang tanpa sengaja menguak kepedihan pada lawan bicara, atau penolakan lainnya, adalah bentuk bahwa memang sebagai insan, kita memiliki emosi dan kepentingan.

Lalu bagaimana?

Perlukah kita hidup tanpa emosi? Tidak begitu. Bukankah Tuhan Sang Maha Pencipta yang menciptakan segala atribut perasaan sehingga manusia kelak menjadi belajar? Tuhan tidak tidur, dan membiarkan segala bentuk kemaksiatan terjadi tanpa alasan.

Lalu kapan?

Ketika kita menyadari berbagai pelajaran hidup yang terjadi, ketika terjadi pada diri sendiri, atau ketika kita cukup cerdas untuk mencerna kejadian dari orang lain, dan ketika menjadi benar paham. Paham bahwa memang segala yang terjadi dengan alasan, dengan konsekuensi, dengan solusi.Pada waktu itu, waktu yang tepat. Jangan tergesa-gesa, jangan memaksa, jangan aniaya diri sendiri. Bersabarlah, sampai memang kita punya cukup tabungan untuk menyadari bahwa itulah hidup.

Lalu siapa?

Kita. Aku, kamu, dan seluruh penghuni planet bumi. Hidup berdampingan, tidak sendiri, kecuali hidup di gurun, atau kutub. Tetangga yang menyebalkan? Bos yang tak berhenti memberikan setumpuk pekerjaan? Supir taksi yang terus berusaha menunjukkan jalan yang melipatgandakan meteran? Pramugari cantik yang terkadang tidak ramah? Para ilmuwan yang merasa penelitian mereka tidak terbantahkan? Masinis yang kadang enggan untuk menoleh ke belakang? Semuanya. Semua, termasuk saya, dan kamu.

Lalu mengapa?

Inilah hidup.

Bahwa esok hari akan tetap tiba, bahwa kematian akan segera menjemput, bahwa kehidupan akan terus bergulir. Kesalahan yang kita buat, akan menjadikan kita kuat. Menjadikan kita tersadar, menjadikan kita terpelajar. Mahasiswa kehidupan. Akuilah kesalahan apapun yang kita lakukan dengan ksatria. Jujur, menjadikan hidup yang berdampingan tenang, dalam terang. Aku pernah bersalah, aku yakin kamu pun begitu. Aku malu mengakuinya? Tentu tidak, kalau iya, aku akan berhenti bersuara.

Sudahlah, aku hanya ingin hidup dengan bahagia. Hidup yang hanya sekali, hidup penuh maaf, hidup dengan jujur, hidup dengan manfaat.

Kamu?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s