Ekskursi Geofisika Teknik dan Lingkungan: Waduk Jatiluhur, Kab. Purwakarta, Jawa Barat

 

 

(Published at Department of Professionalism and Career Development TERRA ITB’s Web Nov 10th, 2011 and will be published in the next edition of Independent! Magazine)

Pada tanggal 8 November 2011, pukul 06.00 WIB mahasiswa yang mengambil mata kuliah Geofisika Teknik dan Lingkungan jurusan Teknik Geofisika ITB berkumpul untuk mengikuti sebuah ekskursi yang akan mengambil aspek baru mengenai dunia geofisika. Selama ini, mahasiswa lebih sering disuguhi dengan pengetahuan yang berkaitan dengan dunia eksplorasi minyak dan gas bumi, kali ini akan ada pengetahuan yang baru lagi.

Suasana di bus selama perjalanan menuju Jatiluhur

Pukul 07.30 WIB, dua buah bus ITB dan satu minibus berangkat menuju lokasi. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam dengan jarak sekitar 60 km dari kampus, melalui tol Pasteur dan keluar di gerbang tol Jatiluhur. Pukul 09.00 WIB rombongan sampai di pintu masuk Kawasan Wisata Grama Tirta Jatiluhur. Ya, waduk ini berada dalam kawasan wisata, namun karena waduk tidak dibuka untuk umum, sehingga memerlukan izin khusus untuk mengunjungi waduknya.

Perusahaan Umum Jasa Tirta II

Bus ITB

Waduk Jatiluhur berada di Sungai Citarum. Pada zaman dahulu, terdapat permasalahan banjir di wilayah Bandung Selatan sehingga dibangunlah waduk ini. Terdapat tiga waduk yang disusun secara seri atau biasa disebut Cascade Dam, yaitu Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur. Namun, pada penggunaannya, Waduk Saguling dan Cirata merupakan single purpose di mana hanya digunakan untuk membangkitkan energi listrik. Kedua waduk ini berada di bawah pengelolaan PT PLN (Indonesia Power dan PJB). Kapasitas energi listrik yang dihasilkan oleh Waduk Saguling adalah 900 MWh dan Waduk Cirata adalah 1.000 MWh. Sedangkan Waduk Jatiluhur adalah multipurpose, yang dominan digunakan untuk memenuhi kebutuhan irigasi air di sekitar hilir seluas 240 Ha dan juga untuk membangkitkan listrik berkapasitas 187,5 MWh. Daerah yang terlingkupi oleh waduk ini adalah Bekasi, Karawang, Subang, dan Indramayu. Waduk Jatiluhur berada di bawah pengelolaan Dinas Pekerjaan Umum.

Penjelasan oleh petugas

Dengan latar Waduk Jatiluhur

Sejarah

Pembangunan Waduk Jatiluhur berlangsung selama 10 tahun dari tahun 1957 dan selesai tahun 1967. Waduk Saguling beroperasi pada tahun 1985, sedangkan Waduk Cirata pada tahun 1988. Ide dasar Waduk Jatiluhur ini adalah oleh seorang Dosen Teknik Sipil ITB pada zaman dahulu, Prof. Blumstein. Tahun 1945-1947 beliau membuat sebuah paper dengan latar belakang banyaknya moda transportasi air di Belanda. Blumstein menyampaikan idenya untuk mengintegrasikan sistem pengairan dari Kali Bekasi, Subang, sampai Kali Rambut di Pekalongan dialirkan ke arah utara dengan beberapa kanal raksasa di tengah-tengahnya. Setelah paper selesai ditulis, Prof. Scravengik yang juga dari ITB membuat detil lebih lanjut mengenai pembangunan waduk ini. Pada tahun 1956, diputuskan oleh Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Ir. H. Djuanda pembangunannya, juga sebagai salah satu Proyek Mercusuar.

Pemandangan pembangkit listrik sekitar waduk

Konstruksi Bendungan

Dari ide pemikiran yang sudah mengalami beberapa kali review, jadilah waduk bendungan Ir. H. Djuanda yang merupakan integrasi 9 sungai sampai Indramayu. Bendungan Curug merupakan jantung bendungan, karena pada bendungan ini terdapat pembagian aliran ke arah Jakarta, barat atau timur.

Desain awal bangunan bendungan dahulu adalah lurus tidak seperti yang terlihat saat ini, agak melengkung seperti arc. Sewaktu dilakukan pengeboran, ditemukan adanya lempung, dan apabila diteruskan pembangunannya maka pondasi tidak akan kuat bertahan dan bergeser. Oleh karena itu, dilakukan redesain dan bendungan dipindahkan ke arah udik.

Jembatan menuju bangunan bendungan

Bendungan di Indonesia pada umumnya ada dua:

  • Rockfil atau urukan. Jenis ini adalah yang paling banyak di Indonesia. Jatiluhur diisi dengan inti tanah liat sepanjang 1.220 meter dengan inclined clay core. Terdapat satu lapisan tanah liat miring, dengan permeabilitas 10 pangkat -8 cm/s. Dengan elevasi 114,5 di atas permukaan laut.
  • Concrete Dam.

Tower atau menara pada bendungan ini mempunyai model morning glory, struktur yang sangat jarang di dunia. Fungsi utama menara ini adalah

  1. Spillway, setinggi +107 meter, untuk mengalirkan air yang tumpah.
  2. Gate intake, sebagai pembangkit turbin.

Tower

Perbedaan proses pembangkitan turbin waduk Jatiluhur dengan kedua lainnya adalah apabila pada waduk Saguling dan Cirata untuk memutar turbin, air dialirkan terlebih dahulu ke hilir baru ke panstock (power house). Namun, apabila di Jatiluhur, langsung melalui menara secara vertikal sebagai pembangkit tenaga air.

Pada dasar bendungan terdapat dua katup helojet. Katup ini akan dibuka ketika harus melepaskan irigasi dalam debit air yang besar. Jadi, apabila dari turbin menghasilkan 200 meter kubik air, sedangkan di hilir membutuhkan 300 meter kubik, sisa 100 meter kubik akan ditambahkan dari pompa helojet ini.

Bagian dalam bendungan

Dalamnya bendungan ini adalah 105 meter dengan diameter 90 meter. Terdapat 6 buah turbin, namun pada kondisi normal hanya menyala 4 buah. Sewaktu debit ar meningkat, baru 5 atau 6 turbin dinyalakan.

Bendungan Jatiluhur

Permasalahan di Waduk Jatiluhur

  1. Pagar korosif. Penyebabnya adalah karena adanya pembusukan di dasar bendungan atau impounding, keramba jaring apung yang menyebabkan timbulnya polutan dan menurunkan kualitas air.
  2. Beton dan listrik mekanik terganggu oleh kehadiran asam klorida H2S. Penyejuk ruangan harus diganti sekali setahun.

Pagar terkorosi

Geologi 

Sewaktu pembangunan, pori batuan diisi dengan andesit yang diambil dari gunung, sedangkan rockfill menggunakan clay.

Waduk ini berada di atas Formasi Jatiluhur yang merupakan pasir, lempung, dan pasir gampingan. Ditemukan adanya patahan normal (sesar turun) dengan dip 60 derajat. Juga ditemukan adanya sinklin yang disusun oleh clay lunak, sehingga pada saat konstruksinya harus dibuang agar tidak membahayakan bagi pondasi.

Sejak 1967, terjadi penurunan sebesar 0,4 meter di hilir dan 2 meter di udik.

Patahan Normal

Geofisika

Fluktuasi air tanah dipantau menggunakan metode magnetik secara shelter, juga secara otomatis dan manual melalui rembesan air tanah. Inclinometer digunakan untuk mengukur gerak gerik tubuh bendungan yang bersifat horizontal secara otomatis. Sedangkan adapula pengukuran secara manual oleh Physiometer, di mana terdapat tiga sensor, atas, tengah, dan bawah.

Belum ada pengukuran geofisika secara detil dilakukan, biasanya hanya mengandalkan pengeboran dan melakukan korelasi secara manual.

Shelter

Physiometer / Inclinometer

Penutup

Dengan adanya Waduk Jatiluhur ini, sebenarnya dunia geofisika mendapatkan tantangan baru untuk mampu mengaplikasikan bidan ilmunya pada waduk ini. Teknologi yang sudah demikian tertata harus terus didukung oleh berkembangnya berbagai ilmu pengetahuan yang kita miliki. Dunia Geofisika tidak tertutup pada satu bidang saja, sehingga penerapan ilmu pada keseharian akan menjadi suatu keberlanjutan yang memang bermanfaat bagi lingkungan sekitar dan negeri ini pada lingkupan yang lebih luas lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s