#3: Institut itu Masa Depan

Aku duduk di kelas tiga SMA. Sejak pertengahan kelas dua, aku sudah bermimpi untuk menjadi insinyur perminyakan. Walaupun berbeda dengan Ayah, tapi aku ingin bisa mewujudkan mimpi ayah di bidang lain. Aku menjadi salah satu siswa dengan kebulatan tekad yang cukup cepat waktu itu, bahkan banyak temanku yang belum mampu menentukan mau ke mana setelah lulus sekolah. Impianku menjadi insinyur perminyakan ini membuatku menjadi jatuh dalam obsesi luar biasa pada salah satu institusi yang memiliki pendidikan teknik perminyakan terbaik di negeri ini. Beberapa jalur penerimaan mahasiswa baru kuniatkan untuk dijalani, demi impianku. Banting tulang aku merancang masa depanku tentang ini. Solat tahajud, tadarus, berdoa sepanjang waktu telah mengisi keseharianku selama setahun penuh menjelang kepastian masa depan.

Kucoba ujian pertama. Aku gagal, hampir berhasil. Aku menangis di depan Ibu untuk pertama kalinya. Sampai sekarang aku tidak berhenti merinding membayangkannya. Ibu berusaha menenangkanku. Aku tahu, meski tidak dengan ungkapan penuh iba, tapi Ibu sangat iba padaku, melihat perjuanganku selama ini. Ibu hanya berkata, “Kan masih ada ujian gelombang berikutnya.” Aku percaya. Aku akan mengikutinya dan berjanji tidak akan mengecewakan diriku lagi. Doaku semakin kuat kupanjatkan, solat malamku semakin tidak pernah kutinggalkan, bahkan di setiap doaku, aku selalu meneteskan air mata, betapa aku ingin Tuhan tahu, bahwa aku ingin impian ini. Aku sadar bahwa setiap manusia akan selalu merengek pada Tuhan ketika tertimpa kesulitan, dan sedikit yang ingat Tuhan ketika sedang bahagia. Bukan itu yang menjadi pikiranku, aku hanya ingin dapatkan impian ini.

Aku menangis, ketika temanku menelpon dan mengabarkan berita kelulusanku pada institusi impianku. Bulu kudukku merinding, persis seperti ketika aku menuliskan tulisan ini. Ya, perasaan haru itu masih melekat tiap aku menceritakan kisah ini. Aku bangga, pada diriku. Bukan karena berhasil mencapai impian banyak orang, tapi bangga pada diriku yang berhasil menempuh satu tahap membahagiakan kedua orang tuaku. Ingin rasanya aku memeluk Ayah dan Ibu, tapi aku tahu bukan seperti ini gaya keluarga kami. Tak apalah, ini tidak akan mengurangi kebahagiaanku. Tidak lagi aku bermimpi, aku sudah masuk dalam impianku, ya, aku ada dalam institut masa depanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s