#1: The Starter

Perkenalkan, namaku Soeharto. Aku bukan Presiden ke-2 Indonesia, juga bukan manusia kelahiran 1950, juga bukan ayah dari empat anak, atau suami dari seorang istri, aku adalah mahasiswa tingkat akhir di sebuah institusi cukup ternama di ibukota Jawa Barat. Sederhananya, aku masih terhitung pemuda. Lingkungan pendidikanku memang kental sekali dengan rasa budaya Sunda, tapi ntah mengapa, semua orang harus percaya kalau sudah tahun keempat aku makan batagor Kingsley atau brownies kukus Amanda, aku tidak bisa bicara bahasa Sunda. Ya, sedikit-sedikit aksen Sunda sering terdengar di telingaku, tapi itu tidak membuatku berani berdialog dengan penduduk Sunda di sekitar tempat tinggalku. Aku bukan keturunan Sunda, juga bukan keturunan Jawa, bukan penduduk asli dataran Jawa Barat, ataupun bagian manapun di belahan timur pulau Jawa. Aku baru saja menjejakkan kakiku untuk beberapa waktu yang konsisten di sini, setelah aku menyelesaikan pendidikan SMA di Jakarta. Jadi, memang pengalamanku pada kota ini sebelumnya hanya sebatas pelancong dengan beberapa anggota keluarga, atau teman-teman sekolahku. Oh, ya, aku keturunan Minangkabau, entah mengapa namaku begitu kejawa-jawaan. Alasannya sudah jelas, orang tuaku penggemar presiden ke-2 republik ini.

Cita-cita masa kecilku menjadi pilot, ya, pengendali jalannya kendaraan raksasa yang kita lihat melintas di langit setiap hari. Sejak kecil aku selalu bermimpi bisa bermain-main dengan kendaraan ini, walaupun hanya sebatas melihat sayap atau muncungnya. Aku merasa bahagia ketika melihat bagaimana benda sebesar ini, bisa mengudara tanpa bantuan apapun dari darat. Ketika di dalamnya waktu itu bersama Ibu, aku takjub bagaimana kendaraan ini adalah kendaraan dengan fasilitas dan pelayanan terbaik selama hidupku, kalau aku tega membandingkannya dengan bus kota atau bajaj. Aku bisa mencapai tempat lain tanpa harus merasa mual karena jalanan berlubang atau berlama-lama karena macet. Ya, ini ciptaan Tuhan paling indah. Saat itu memang ternyata aku cinta pesawat terbang dengan begitu fanatiknya. Aku beruntung bisa menemani ibuku dengan rutin setidaknya sebulan sekali selama beberapa tahun naik pesawat terbang. Ketika itu aku masih TK di pulau Sumatera, dan belum punya kewajiban sebesar ini terhadap pendidikanku. Jadi, Ibu tidak segan untuk membawaku serta di perjalanannya ke ibukota negara mengurusi beberapa keperluan. Aku senang melihat langsung toko donat yang saat itu hanya ada di Jakarta, yang selalu ibu bawakan ketika pulang ke rumah. Bayanganku tentang Jakarta, ya, selalu jauh di luar kemampuanku. Kota dengan begitu banyak fasilitas hidup dan permasalahannya. Bukan itu pemikiranku waktu itu, aku masih kecil sekali, tapi aku paham bahwa Jakarta sangat berbeda dengan kota tempat tinggalku.

Kesempatan mendatangi ibukota Jakarta memang menjadi momen menarik di penggalan kisah masa kecilku. Mungkin karena sekolahku yang bukan di kota metropolitan, atau teman-temanku yang lebih sering main ke ibukota provinsi daripada ke ibukota negara. Waktu itu, Ibu mendapatkan tugas dari Ayah untuk mengurusi pembangunan rumah kami di Jakarta. Ayah memang tidak mudah percaya orang, maka Ibu yang menjadi utusannya mengatur kepentingan pembangunan rumah masa tua kami nanti. Tiba-tiba aku teringat, saking isengnya aku, aku pernah membuka kembali rapor pendidikan TK-ku, menghitung hari aku absen datang ke sekolah, dan mendapati angka 104 di total hari absenku selama setahun, hari efektif sekolah. Angka yang besar menurutku, apalagi untuk siswa terbaik kedua pada akhir tahun kelulusan TK. Aku sendiri tertawa memikirkan apa yang sudah aku kerjakan selama di taman kanak-kanak. Mungkin guruku bisa bercerita lebih banyak dibandingkan memoriku yang terbatas ini.

Aku mungkin bukan lulusan terbaik dari taman kanak-kanak tempatku belajar dasar-dasar kehidupan selama dua tahun, namun aku bersyukur masih bisa melanjutkan pendidikan sekolah dasarku. Tidak banyak yang dapat kuceritakan mengenai SD ini. Tidak banyak yang terjadi. Namun, 4 tahun di SD yang tidak jauh dengan ibukota provinsi, dan sisa 2 tahun di SD yang berjarak dua jam dari sekolahku sebelumnya. Aku bertemu beberapa teman-teman baru di waktu yang relatif singkat bagi anak kecil beradaptasi. Pendidikan SMP dan SMA-ku semuanya kuhabiskan di ibukota negara, ceritanya jelas berbeda. Nanti aku ceritakan.

Aku sudah mengubur cita-citaku untuk menjadi seorang pilot, ya, sejak tahun pertama sekolah dasar aku divonis mengalami penyakit rabun jauh. Menjadi pilot, tidak diperbolehkan menggunakan kacamata, setahuku. Sempat kecewa, tapi tidak apa, toh, tidak ada larangan menggunakan kacamata untuk naik pesawat sebagai penumpang.

Aku bukan anak kecil yang gemar bermain sepakbola, atau bola basket. Aku juga tidak suka membaca buku cerita atau menonton kartun. Aku tidak suka membaca komik atau bermain mobil-mobilan. Aku juga tidak lahir di keluarga yang kaya raya ataupun bermobil sepuluh. Masa kecilku bukan masa kecil yang paling sempurna. Tapi bahagia itu ada.

3 pemikiran pada “#1: The Starter

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s